9 Desember 2021

Tak Hilang Melayu Di Bumi, Istana Lima Laras nasibmu kini.

Saat kunjungan ke Istana Lima Laras yang yang terlihat kumuh dan sangat memprihatinkan.

Rabu 29 September 2021, 10:25

Medan-Rentaknews.com. Dalam berbagai catatan musafir dan penjelajah Nusantara abad ke-7 dan 8, banyak catatan yang mengungkapkan bahwa di berbagai bandar yang tersebar di seluruh Nusantara, telah bermukim kelompok – kelompok pedagang yang memiliki identitas dan karakteristik yang hampir bersamaan.

Mereka ditemukan di bandar – bandar, kota-kota pelabuhan dan pesisir Madagaskar (Afrika), Sumatera, Patani (Thailand), Malaya, Jawa sampai ke Mindanau (Filipina).
Kelompok – kelompok ini, disamping aktif dalam perdagangan antar pulau, juga giat dalam berdakwah atau menyebarkan agama. Islam, terutama di sekitar bandar-bandar tempat mereka bermukim. Komunitas – komunitas ini menamakan dirinya orang Melayu.

Dalam banyak literature konsep melayu memang sering dipahami sebagai kelompok. Penduduk yang hidup di alam nusantara:Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina dan beberapa kawasan. Sedikitnya ada beberapa kriteria orang melayu. Beragama Islam, berbahasa melayu, beradad – resam Melayu, tinggal dipemukiman Melayu dan mengaku Melayu.

Menelusuri identitas asal usul kelompok etnik setidaknya ada dua kategori :(1) kategori genetic – material, dan (2) kategori sosio-budaya.

Penulis saat berkunjung ke Perpustakaan Usman Pelly di Medan

Kategori pertama (genetic-material) seperti keturunan , dan lingkungan fisik teritorial, termasuk rumah, pakaian dan makanan, merupakan sesuatu yang “given ” yang diterima sebagai warisan (ascribed factors).

Sedangkan kategori kedua (sosio-budaya) seperti bahasa, adat istiadat , agama, dan pendidikan merupakan faktor-faktor yang diperoleh karena dipelajari atau disosialisasikan dalam kehidupan manusia, sesuatu yang merupakan “achievement factors”.

Termasuk kedalam kategori kedua ini (sosio-budaya) adalah pengakuan diri sendiri dan orang lain. Kelompok etnik yang solid dan dapat dibedakan dengan mudah dari kelompok etnik lainnya, apabila kelompok itu memiliki dalam dirinya kedua kategori ini. ( Tak Hilang Melayu di Bumi, Usman Pelly: Mei 2019).

Kembali kepada kategori pertama (genetic-material) beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi Tanjung Tiram Kabupaten Batu Bara, termasuk singgah di Istana lima Laras. Dalam kunjungan, mengabadikan pemandangan yang seronok dimana tertulis
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktorat Jenderal Kebudayaan Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Prov. DI Aceh dan Sumut dengan latar belakang kondisi Istana Lima Laras yang sangat tak terawat, tidak terurus dan sengaja dibiarkan terbengkalai. Sungguh pemandangan cagar budaya yang sangat memprihatinkan.

Hendaknya situs sejarah seperti Istana Lima Laras dan situs-situs sejarah lainnya dapat terpelihara dengan baik, tentu yang bertanggung jawab adalah Pemerintah kabupaten ( Bupati) dan Dinas terkait yang harus peduli atas peninggalan sejarah. Dan hendaknya Legislator DPRD Provinsi dan Kabupaten Dapil tersebut duduk bersama dengan pemangku Kepentingan menginisiasi dan mencari solusi setiap permasalahan di daerahnya.

Masih terngiang dan berpendar dalam ingatan dan pikiran kita akan sumpah Hang Tuah, ” tidak hilang Melayu di bumi, tidak juga di Nusantara ini, mari kita wariskan kepada anak cucu nilai-nilai kebaikan termasuk melestarikan cagar budaya, dimana disitu terpendam sejarah masa lalu”.

Penulis : Abdul Aziz, Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Sumut.
Pengurus DPP Forum Masyarakat Adat Deli (FORMAD)

Editor : Adm.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram