Kebiasaan menulis merupakan rekreasi menyenangkan yang memiliki banyak manfaat baik, bagi penulis dan orang yang membacanya.

Ahad 10 Oktober 2021 10:23

IKLAN

Medan-Rentaknews.com. Hobby memang selalu menyenangkan. Hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran. Karena hal itu dikaitkan dengan suatu kebiasaan yang disukai dan biasanya hal itu dilakukan secara kontinyu bahkan sering menyita waktu.

Bagi seorang penulis, menulis merupakan rekreasi menyenangkan yang memiliki banyak manfaat.  Kebiasaan menulis, merupakan tradisi besar orang-orang terdahulu yang ditularkan secara turun temurun kepada anak-anaknya.  Kilas balik kebelakang sejak masa kecil, orang tua mendidik dan melatih anak-anaknya untuk bisa berbicara dan menulis. Lebih jauh lagi, kita dapat menulis dan membaca lebih baik karena orangtua telah mengajarkannya sebelum memasuki dunia pendidikan formal. Selanjutnya kita pun dimasukkan ke sekolah dan dididik untuk mendapatkan ilmu yang lebih terarah dan terukur. Kita bisa membuka jendela informasi keberbagai sudut dunia karena tradisi orang-orang terdahulu yang gemar mengajarkan menulis kepada anak-anaknya.

Sesungguhnya dengan menulis dapat mencurahkan apa yang dirasakan, berbagi informasi, berbagi masalah, berbagi hal untuk keluarga, jiran, kerabat dan masyarakat. Maka tidaklah berlebihan pada saat menulis seorang penulis telah mengungkapkan rasa dan keinginannya akan sesuatu. Dengan menulis berucap dalam rangkai kata-kata, goresan kalimat yang terukir dan menjadi rekam jejak informasi kehidupan yang perlu untuk disampaikan kepada publik. Semuanya dapat kita raih dengan senantiasa menulis dan menulis.

Haruskah Menulis     

Kepala Balai Bahasa Bandung  Abdul Khak mengatakan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan generasi muda. Rendahnya tradisi menulis, menurut Abdul, akibat rendahnya minat membaca. “Minat  membaca saja sebenarnya masih rendah. Bayangkan, minat menulis justru berada di bawah minat membaca. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan,” kata  Abdul Khak, Rabu di Bandung, Jawa Barat (Kompas 23/11/2011). Ia mengatakan, kedua kegiatan, membaca dan menulis saling memengaruhi. “Membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis jika tidak suka membaca,” ujarnya.

Menulis, apakah sesungguhnya yang didapat dari kegiatan tulis-menulis?, tentunya banyak sekali, di antaranya kepuasan batin, karena menulis merupakan panggilan hati. Kepuasan batin adalah satu hal yang sulit dicari. Dengan menulis membangun karakter jiwa yang mampu meninggalkan jejak sejarah yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang. 

Setiap ayunan langkah dalam perjalanan sehari-hari, sesungguhnya lingkungan sekitar kita memberikan gambaran yang layak untuk direkam.Secara langsung kita mendapat ilmu dari lingkungan sekitar kita yang tak terhitung banyaknya. Hampir setiap hari peristiwa kecil yang dialami perlu mengikatnya dengan berbagai tulisan agar pristiwa tersebut tak berlalu begitu saja. Rekam pristiwa tertata dalam untaian kata yang dialami berbagi dengan orang lain. Orang bijak mengatakan “ikatlah ilmu dengan tulisan”. Jadi, mengapa enggan mengikat ilmu dengan menulis?  

Ada kalanya seseorang mahir atau lihai di atas mimbar tapi tidak mahir dalam menulis. Demikian pula sebaliknya. Maka ketika seseorang tidak mampu menyampaikan orasi di atas mimbar, setidaknya ia bisa menulis apa yang ingin disampaikannya. Dengan tulisan dapat menyampaikan apa yang tak mampu diutarakannya di atas mimbar. Apa  yang tak mampu untuk diucapkan, dengan menulis terungkap rangkaian kata. Menulis juga bagian dari amal jariyah. Mari perbanyak tabungan akhirat dengan menulis sejak sekarang.  

Bakat Menulis

Bakat bakatan kata orang. Tidak berbakat  dalam menulis sering dijadikan alasan mengapa tidak menulis,” ah, aku ini tidak punya bakat untuk menulis”. Padahal para penulis terdahulu tidak pernah mempersoalkan bakat dalam menulis. Tapi yang terpenting adalah keinginan dan minat yang besar dalam belajar. Contoh, Imam Malik RA menulis kitab Al-Muwatha’ sementara beliau dalam pejalanan. Jika kita melihat, beliau tidak memiliki bakat besar dalam menulis, tapi beliau mempunyai kemauan kuat dalam menulis sehingga sepintas beliau nampak seperti orang yang berbakat besar dalam menulis. Maka wajarlah jika lahir karya-karya yang besar dari tangan beliau yang sampai sekarang masih bermanfaat bagi ummat. Imam Al-Bukhari RA penulis kitab Shahih Al-Bukhari. Beliau menuliskan kitab tersebut bukan karena bakat, tetapi sekali lagi karena kemauan dan keinginan yang sangat besar dalam menulis dan menyebarkan ilmu beliau.

Beberapa masukan untuk  anda yang ingin jadi penulis ; (1) Tulislah apa yang ingin kita tulis pada waktu keinginan itu tiba-tiba muncul. Jangan dibiarkan menunggu hingga keinginan itu lenyap kembali. Calon penulis professional akan selalu menyiapkan catatan atau skema singkat, apabila keinginan menulis tiba-tiba muncul. Keinginan menulis tiba-tiba, berupa embrio apa-apa yang akan ditulis, disebut juga ilham, atau apa saja namanya, akan muncul di mana saja. Di perjalanan, di tempat kerja, di bus kota, di warung, dan lain-lain. Secarik kertas yang tersedia di saku kemeja mungkin akan menjadi penampung terpenting pertama dalam situasi dan kondisi mendadak. Atau ingatan yang kuat ikut berperan sebagai terminal gagasan.(2) Luangkan waktu khusus untuk menuliskan apa-apa yang sudah tercatat atau terpikirkan. (3) Jika waktu luang sudah ada, gagasan dan ilham sudah berhasil dituangkan, maka jadilah Anda seorang penulis.

Bahwasanya bakat itu tak akan lahir jika tak ada kemauan. Karena dari kemauan itu, maka bakat pun lahir. Katakanlah Anda dan semua orang memvonis diri mereka tidak berbakat, maka menulis artikel atau buku hanya akan tinggal mimpi belaka. Jika kita sudah lebih dulu memvonis diri kita tak berbakat menulis, tak mampu menulis, tak ada waktu menulis, tak ada ide untuk ditulis, maka jangan harap kita bisa menelurkan karya tulis.

Penulis : TI Abdullah

Editor : Adm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here