1 Desember 2021

Semangat memberikan yang terbaik untuk umat

PZU menyerahkan sertifikat untuk SPBU 14.202.137 Jalan Panglima Denai yang diterima Roni pengawas SPBU.

Jum’at 22 Oktober 2021 09:00

Medan-Rentaknews.com. Hembusan udara sejuk lewat AC kantor terasa dingin mengaliri pori-pori wajahku. Beberapa hari ini kota Medan sedikit dilanda gelombang panas, sehingga berlama-lama diruangan ber-AC terasa menyegarkan.  Kubuka lembaran data dari tas jinjingku, memeriksa kembali berkas yang telah selesai diserahterimakan kepetugas BAZNAS untuk registrasi perpanjangan izin operasional, juga izin menempatkan relawan pada beberapa Masjid dan SPBU.

Kerjasama dengan PT.Pertamina Persero kantor Cabang Medan untuk penempatan relawan bulan lalu telah selesai, bulan Oktober-Desember sedang dalam proses lanjutan. Sedangkan untuk SPBU Pertamina Swasta no 14.202.137 Jalan Denai Medan, selama lebih dari tiga bulan ini telah terlaksana dengan baik.

Baca Juga :

Kamis kemarin bersama Pengawas: Abdul Aziz ST, Manager Umum: Mawardi Tanjung, Kadiv. Penghimpunan: Syukri Ahmad Rokan SE dan Kadiv. Keuangan: Eko Misriadi, menyerahkan sertifikat untuk SPBU Swasta yang diterima Roni pengawas SPBU, dengan ucapan terimakasih atas kerjasama yang telah diberikan untuk Penghimpunan dana umat.

Adik-adik mahasiswa dari UINSU memanfaatkan waktu luang dimasa pendemi Covid-19 sebagai relawan umat telah hadir siang ini diruang tunggu kantor JNE. Kadiv. Penghimpunan terlihat sibuk menyusun kotak infaq, brosur, amplop serta jadwal Masjid yang akan dibawa adik-adik relawan kebeberapa Masjid. Mereka ada sepuluh orang relawan yang siap membantu Laz PZU Sumut.

Bertempat dikantor JNE, Laz PZU Sumut berbagi kepada kaum Dhuafa

Seperti biasa para relawan dihari Jum’at sebelum kelapangan dibekali arahan oleh Kadiv. Penghimpunan, disiplin dalam berkerja. “Tunjukan sikap baik seorang amil zakat, santun, ramah, simpati dan cerdas memberikan jawaban para donatur. Bila ada yang bertanya, apa itu Laznas PZU, dimana kantornya, apa programnya dan sejauh apa program dilaksanakan, atau pertanyaan lainnya segera jawab dengan lemah lembut namun tegas,” ujarnya.

Setiap hari bersama Manager Area, kami survei kebeberapa lokasi SPBU, Masjid, swalayan dan tempat keramaian lainnya untuk mendapatkan donatur yang siap memberikan donasinya kepada umat. Sebagai petugas Amil Zakat kami juga selalu siap memberikan yang terbaik kepada para donatur, apakah dengan Qris, lewat Program Website PZU Sumut atau dijeput kerumah.

Bekerja dalam kegiatan sosial ini banyak hal yang menyenangkan, mencurahkan waktu dan tenaga, dari survei & pemetaan, menyusun program, buat proposal, hingga menyalurkan dana untuk umat. Ada semacam kepuasan tersendiri bila bisa berbagi kepada umat yang membutuhkan.  

Ayu Fauziah Rambe Relawan PZU saat menerima donasi di Masjid Raya Al Mashun Medan

Sedikit pengalaman kami saat survei lapangan diawal September yang lalu. Malam itu kami kembali sedikit larut karena beberapa tempat survei yang berjauhan. Ketemu dengan laki-laki penjual mainan anak-anak. Saat itu sepeda motor kami berjalan lambat. Kupalingkan wajah kearah kananku, aku melihat seorang pedagang keliling mengendarai beca motor dengan gerobak disampingnya. Kulihat kedua kakinya tidak sampai kepersneling. Terlihat becak disesain sesuai kebutuhan pengendaranya.

Beca tersebut semula berjalan cepat, namun ada pelapisan hotmix jalan beca diperlambatnya  sesaat kendaraan kami berjalan berbarengan. Beban gerobak tidak terlalu berat dengan barang-barang dagangannya, sebagian sudah habis terjual, terlihat dari beberapa pelastik pembungkus yang masih menempel digerobaknya.

Berbagai jenis mainan anak-anak dan asesories perempuan masih tergantung disisi belakang gerobaknya. Tertempel dibadan gerobak slogan, “Ayo Berzakat bro, hari ini bersedekah harus lebih baik dari kemarin.!”, Eh, kata-kata ajakan dari PZU untuk mau berzakat, berinfak dan bersedekah, gumanku dalam hati,“ hebat juga orang ini, siapa beliau ya,” pikirku lagi. Kupikir Ia sedang berjalan menuju rumah, untuk kembali kekeluarganya, ternyata tidak.

Beca kami menepi dipojokan kedai kopi, kupikir istirahat sejenak sebelum kembali kekantor. Kujabat tangannya, “apa kabar pak,” kataku seolah sudah mengenalnya,“ Alhamdulillah baik, “wah, bapak-bapak mau pulang ini,” ujarnya, “ya” jawabku, sambil memperhatikannya. “gimana, apa sudah selesai pembagiannya,“ katanya, “ Insya Allah sudah pak,” jawabku. “ada beberapa desa yang belum pernah disurvei lho pak,…tahun depan tolong disertakan,” unggahnya lagi, aku tersentak kaget, ternyata pria tua ini telah mengenalku dan team yang kukomandoi.

Beliau begitu akrab menyapa, hangat membangun persahabatan, lemah lembut bertutur kata, menyampaikan data lapangan dengan benar, bahkan beberapa permasalahan yang luput dari pengamatan kami selama ini disampaikannya dan diberikan solusi, sorot matanya begitu tajam ketika berbicara, menguasai pembicaraan, tak kelihatan perasaan rendah diri karena cacat fisiknya.

Sosok laki-laki enampuluhan ini ini ternyata tangguh, kuat, berani, berilmu, bertanggung jawab dan penuh percaya diri. Mampu menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain dan lingkungannya. Dia tidak meminta-minta, tidak menghibah-hibah agar orang lain memandangnya kasihan. Dia tidak berpakaian kusut supaya dianggap papa tak punya apa-apa, tapi justru berpakaian rapi dan bersih. Dan dia tidak mau mengemis, bahkan mampu menjadikan dirinya bermanfaat buat orang lain dan lingkungannya, tidak menyia-nyiakan waktu bahkan masih bekerja untuk keluarganya disaat orang lain sudah dipembaringan.

Akhirnya kami berpisah dengan beliau malam itu usai minum kopi hangat dan sepiring ubi goreng di warung kopi Abah Dollah, kontak person kami dilapangan. Aku masih terus melihatnya sampai hilang dari pandanganku. Sejenak aku merenung. Adakah kita mampu lebih bersemangat dari beliau?

Padahal kita lebih sempurna secara fisik. Lebih banyak hal semestinya yang bisa kita lakukan. Tapi sampai seberapa mampu kita mengolah segala yang kita miliki. Berangkali sering kali kita memoles diri supaya terlihat hebat, namun menempatkan diri sebagai sosok yang rendah diri, berbicara lantang padahal takut dengan tantangan, berbicara berbelit- belit padahal ingin berkelit.

Tapi, seorang bapak yang tidak kukenal telah mengajarkanku, bahwa siapapun kita, siapapun keturunan kita, apapun keadaan diri kita, apapun nasab dan nasib kita jangan cepat berprasangka, tidak perlu merasa rendah diri, tidak mudah tersinggung, tidak mendendam, tidak mudah merendah-rendahkan diri agar dikasihani. Tampilah apa adanya, idealis sebagai orang yang pantas dihargai, bukan dikasihani.

  • Penulis : TI Abdullah
  • Editor : Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram