Selalu optimis memandang hidup, yang senantiasa dengan berfikir positif.

Jum’at 29 Oktober 2021, 09:10 WIB

IKLAN

Medan-Rentaknews.com. Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang Allah tinggikan derajatnya, mereka selalu optimis memandang hidup ini, yakni dari kacamata positif. Sifat optimis adalah sifat hidup yang memiliki harapan positif dalam menghadapi setiap permasalahan.

Allah Subhânahu Wa Ta’âla telah berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ”

Artinya : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”  (QS Âli ‘Imrân (3): 139)

Semua persoalan tak ada yang tidak dapat diselesaikan, berusaha semaksimal mungkin, selanjutnya berserah diri kepada Allah SWT.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) optimisme, paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal.

Dewasa ini para psikolog menilai optimisme sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Ketika optimisme hilang dari dalam diri seorang manusia, maka ia merasa gagal untuk dapat meraih harapannya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Artinya :”Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”(QS. Fussilat 41: 30)

Dunia ilmu psikologi, pembahasan tentang optimisme mulai marak dikaji dengan munculnya aliran psikologi positif yang diusung Martin Seligman. Seligman adalah Psikolog Amerika Serikat  yang getol mempromosikan penerapan ilmu psikologi bagi tumbuhnya manusia yang bermental positif dan optimis dalam menjalani kehidupannya.

Psikologi positif menunjukkan peran agama sebagai faktor pembangun nilai-nilai positif dalam diri manusia. Seligman memasukkan nilai-nilai religius dalam psikologi modern.

Al-Quran mengingatkan manusia terutama orang-orang yang beriman dan beramal saleh untuk optimis dalam mengaruhi bahtera kehidupan. Sebab, Allah tidak pernah mengingkari janjinya.

Firman Allah SWT :

نَحْنُ اَوْلِيٰۤـؤُکُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۚ وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْۤ اَنْفُسُكُمْ وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ ۗ

Aryinya : “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.”(QS. Fussilat 41: 31)

Optimisme merupakan sikap hidup yang harus dimiliki oleh setiap orang-orang beriman. Karena dengan optimistis, seorang Muslim akan selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai cita-cita dengan penuh keikhlasan karena Allah SWT.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ “

Artinya: Mukmin (orang yang beriman) yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Pada diri masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah.

Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘lau’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan setan.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Dari ayat dan hadits di atas, sebagai seorang Muslim harus ada keyakinan yang kuat dalam berusaha dan penuh perhitungan, untuk mengejar segala cita-cita, selanjutnya berserah diri pada ketentuan Allah.

Lihatlah anak-anak Palestina, mereka sudah diberi keyakinan oleh orangtuanya, bahwa Israel adalah penjajah yang harus hengkang dari tanah Palestina. “perangi mereka sebisanya”. Salahseorang pejuang cilik Palestina ditanya wartawan,”apa mungkin perang dengan ketapelmu ini bisa memenangkan perang melawan zionis Israel”, kata seorang wartawan. “tugasku berjuang, sedangkan yang memenangkannya Allah SWT” jawabnya singkat penuh optimis.

Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berputus asa atau lemah, karena sikap yang demikian itu berpeluang untuk membuka pintu bujuk rayu syetan.

Allah SWT berfirman,

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ ”

Artinya : Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al-Baqarah 2: 147)

Sesungguhnya optimis terhadap masa depan memberikan motivasi positif bagi hamba yang senantiasa berserah diri kepada-Nya, karena menempatkan dirinya sebagai hamba yang senantiasa bersangka baik kepada Allah SWT.

Karena itu maka hamba yang optimis mampu mengembangkan seluruh potensinya, dan keluar dari segala bentuk keterbatasan yang menghalangi karena yakin Allah pasti menolongnya. 

  • Penulis : TI Abdullah
  • Editor : Adm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here