1 Desember 2021

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) Ulama Besar dari Sumatera Barat.

Tokoh berpengaruh yang bertahun-tahun menimba ilmu di sekolah formal.

Senin 01 Nopember 2021 11:25 WIB

Medan-Rentaknews.com. Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan panggilan Buya Hamka merupakan seorang ulama, penulis, wartawan dan politikus yang berasal dari Sumatera Barat. Hamka dilahirkan di nagari Sungai Batang Maninjau, Kabupaten Agam 17 Februari 1908.

Kiprah politiknya ia mulai melalui Masyumi, beliau menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama.Kita sebagai ulama telah menjua diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual kepada pihak manapun”! tegas Hamka setelah dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1975.

Pendidikan Hamka
Jika banyak tokoh – tokoh berpengaruh yang bertahun-tahun menimba ilmu di sekolah formal, tidak demikian halnya dengan Hamka, Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya sampai kelas dua Sekolah Rakyat di Maninjau setelah itu, saat usianya menginjak 10 tahun, Hamka lebih memilih untuk mendalami ilmu agama di Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sekolah Islam yang didirikan ayahnya sekembali dari Makkah sekitar tahun 1906.

Di didik dalam keluarga muslim, ayahnya adalah Abdul Karim Amrullah seorang pembaharu Islam di Minang Kabau. Buya Hamka juga sastrawan yang banyak menghasilkan karya-karya besar yang masih diminati masyarakat hingga saat ini, diantara karya besar beliau adalah Dibawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Tafsir Al – Azhar, Merantau ke Deli dan Tasawuf Modern.

Bukan saja dalam ilmu keagamaan, Hamka juga mengusai berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik yang menarik, semua itu dipelajarinya secara otodidak tanpa melalui pendidikan khusus. John L. Espito dalam Oxford History of Islam bahkan menyejajarkan sosok Hamka dengan Sir Muhammad Iqbal, Sayid Ahmad Khan dan Muhammad Asad.

Sepanjang hidupnya Hamka telah melahirkan karya-karya fenomenal. Di dalam ceramah-ceramahnya beliau selalu menyampaikan petuah bijak diantaranya:
Satu-satunya alasan kita untuk hadir di dunia ini adalah untuk menjadi saksi atas keesaan Allah.

Kita memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari ujar beliau disela-sela ceramah yang selalu dipadati umat yang ingin mendengar tausyiahnya.
Menjelang tumbangnya rezim Orde Lama, persisnya tahun 1964 Hamka pernah mendekam di penjara selama dua tahun karena dituduh pro Malaysia. Meski secara phisik beliau terkurung Hamka terus berkarya.

Jika kebanyakan orang usai menjalani hukuman sebagai tahanan politik lebih memilih untuk mengeluarkan buku kecaman terhadap rezim penguasa, tidak demikian halnya dengan Hamka.

Ia justru menghasilkan mahakarya yang membuat beliau terkenal hingga ke mancanegara, yakni TafsirAl-Qur’an yang diberi nama tafsir Al-Azhar yang berisi terjemahan Al -Qur’an sebanyak 30 Juz lengkap, itu merupakan satu – satunya Tafsir Al-Qur’an yang ditulis oleh Ulama Melayu dengan gaya bahasa yang khas dan mudah dicerna.

Hamka wafat di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981. Kemudian Buya Hamka di Anugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Penulis : Abdul Aziz
Pengurus MUI Prov. Sumut, Komisi Ukhuwah Islamiyah.
Pengurus MUI Kota Medan, Komisi Siyasah, Syariah, Kerjasama antar Lembaga.
Editor: Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram