7 Desember 2021

Menakar Kepiawaian KUA Medan Johor Dalam Menyelesaikan Kasus Sengketa Lahan Masjid.

Tengah KUA Medan Johor Ahmad Kamil, MA bersama Abdul Aziz dan Ust. Mawardi Tanjung.

Rabu 03 Nopember 2021 10:00 WIB

Medan-Rentaknews.com. Kasus sengketa lahan masjid wakaf antara pengurus/takmir atau jamaah masjid dengan ahli waris lahan semakin marak terjadi.
Masalah itu terjadi karena ada pihak ahli waris yang tidak menerima kalau lahan yang mereka miliki sebelumnya telah di wakafkan oleh orang tuanya.
Permasalahan sengketa masjid itu menjadi besar ketika pengurus masjid dan jamaah masjid melakukan perlawanan terhadap pihak ahli waris, atas masjid yang sudah berdiri berpuluh tahun.

Menurut hukum Islam wakaf berarti menyerahkan hak milik atas sesuatu yang tahan lama kepada penjaga wakaf atau nadzir.
Penjaga wakaf boleh perorangan ataupun sebuah lembaga, dan akan menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mengelola harta atau benda yang diwakafkan.

Wakaf berdasarkan Hukum Positif telah ditetapkan didalam Peraturan Pemerintah Nomor: 42 tahun 2006 mengenai pelaksanaan Undang-Undang no. 41 tahun 2004.
Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/ atau menyerahkan sebagaian harta benda untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan /atau kesejahteraan umat menurut syariah (pasal 1)

Akta Ikrar Wakaf, yang selanjutnya disingkat AIW adalah bukti pernyataan kehendak wakif untuk mewakafkan harta benda miliknya guna dikelola Nazhir sesuai dengan peruntukan harta benda wakaf yang dituangkan dalam bentuk akta.
Kasus sengketa lahan masjid wakaf kembali mencuat di Kecamatan Medan Johor tepatnya Masjid Rabhitah jalan Karya Dharma no. 1 Kelurahan Pangkalan Masyhur dengan Kepengurusan BKM.

Saat ditemui di kantornya KUA Medan Johor, Ahmad Kamil Harahap, MA menyampaikan “bahwa konflik masjid Rabhitah sudah dalam penangan KUA Medan Johor,” ujar Kamil senin (1/11/2021). Untuk mendapatkan informasi yang berimbang, Kamil langsung mendatangi Masjid Rabhitah pada waktu sholat Dzuhur kemudian melakukan dialog dengan saudara Syaiful Husni selaku KUA saya menanyakan kepada Syaiful, ” apakah benar ini hibah dari almarhum Rusmin Selamat kepada almarhum H. Usman Ismail, beliau menjawab benar, pernyataan ini disaksikan oleh Sulaiman Hamzah, dari jawaban tersebut diatas jelas Hibah telah memutuskan hak ahli waris, tidak ada hak dari waris untuk mencampurinya lagi. Jika sudah menjadi wakaf maka do’a kita akan menjadi amal jariah yang abadi bagi orang tua kita untuk selama-lamanya. Wakaf artinya berhenti. Kepemilikannya sudah beralih menjadi milik Allah, berhenti dari milik pribadi, artinya tidak ada hak dari anak-anak almarhum lagi.” ujarnya dengan tegasnya.

“Sewaktu ahli waris mendatangi kantor KUA beberapa waktu lalu dengan tegas saya sampaikan kepada mereka jangan ada lagi yang mengatakan tentang ahli waris, tentu sebagai pengayom umat di kecamatan Medan Johor saya juga menyampaikan dan menasehati ust. Muchlis selaku imam agar tegak lurus, keberpihakan saudara membuat suasana semakin kisruh itu saya rasakan bagaimana ketidaknyaman saya sholat dzuhur disitu, apalagi jamaah dan warga yang melaksanakan ibadah setiap saat di masjid Rabhitah.” ujar Kamil lagi.

Sesuai arsip di kantor KUA tanah pertapakan masjid Rabhitah telah diikrarkan menjadi wakaf bulan Juli 2021 oleh anak pewakif yaitu bapak Rusdi, dan telah disepakati seluruh anak pewakif berdasarkan surat kuasa seluruh anak pewakif. Dan telah memiliki akta Ikrar Wakaf, tanah wakaf ini dikelola 7 (tujuh) orang nazir wakaf telah disyahkan oleh Ka Kua Medan Johor.

Dilanjutkan Ahmad Kamil, ” kedua lembaga yang ada di masjid Rabhitah baik Nazir wakaf maupun BKM dapat bersinergi untuk menciptakan suasana yang menyejukkan sehingga pelaksanaan ibadah lainnya dalam artian luas dapat terselenggara dengan sebaik – baiknya. Seluruh jamaah merasakan kekhusukan dalam beribadah.” ujarnya.
Ka. KUA yang baru ini menambahkan, ” walaupun saya baru bertugas di Kecamatan ini, Kepala yang terdahulu telah berpesan tentang persoalan ini. Oleh karena itu saya telah melakukan kunjungan dan Silaturahim mendatangi jamaah masjid.” ujar Kamil lagi.

Abdul Aziz yang didampingi Ustad Mawardi Tanjung, menegaskan bahwa, ” tugas Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai tenda besar umat Islam disemua level adalah : Menyelamatkan ibadah Umat, menyelamatkan Aqidah Umat dan Menyelamatkan Muamalah umat. “Saya selaku pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk itu.” tegas Aziz.

Apalagi Surat Pernyataan bersama Jamaah masjid Rabhitah dengan terbentuknya BKM yang baru tanpa Musyawarah, dibentuk dengan cara main tunjuk saja, yang sudah diterima Ka KUA, hal ini menimbulka gejolak di tengah-tengan jamaah.

Diakhir pertemuan Abdul Aziz yang juga sebagai Pengurus MUI Provinsi di Komisi Ukhuwah Islamiyah dan Pengurus MUI Kota Medan Komisi Siyasah, Syariah & Kerjasama antar Lembaga berpesan kepada Ahmad Kamil selaku pengayom umat di Kecamatan Medan Johor, “selesaikan pak Kamil kasus ini secepatnya, agar jamaah nyaman untuk beribadah. Kiprah dan kepiawaian KUA Medan Johor tentunya sangat kami harapkan,” pungkas Aziz.

Reporter : Abdul Aziz
Editor: Adm.

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram