1 Desember 2021

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Pejuang dan Peletak Dasar Perang Gerilya.

Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Haris Nasution

Kamis 04 Nopember 2021, 11:00 WIB

Serial Hari Pahlawan

Medan-Rentaknews.com. Menyambut Peringatan Hari Pahlawan yang akan digelar pada 10 November, tentu saja menjadi momen bagi kita untuk mengenang kembali sejarah perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan Indonesia tentu saja tidak hanya didapatkan dengan cuma-cuma melainkan adanya campur tangan dan peranan besar para pahlawan, diatas itu semua, Allah SWT memberi kekuasaan kepada siapa yang dikendaki-Nya termasuk di dalamnya anugerah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Baca Juga :

Mengenang peristiwa gerakan 30 September atau G. 30 S PKI, kita pasti tidak asing lagi dengan Pahlawan Nasional Jenderal Besar Abdul Haris Nasution , pahlawan nasional berasal dari Sumatera Utara kelahiran Kotanopan 3 Desember 1918.
Lulus dari sekolah AMS-B (SMA Paspal) pada tahun 1938 beliau menjadi guru di Bengkulu dan Palembang, tetapi kemudian beliau tertarik masuk Akademi Militer.

Dalam masa Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948) AH Nasution diberi wewenang untuk memimpin Divisi Siliwangi, ketika itulah muncul ide tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat.

Metode perang ini dikembangkan setelah Pak Nas (panggilan akrab beliau:red) Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949).
Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Haris Nasution dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya melawan penjajahan Belanda yang tertuang dalam buku yang beliau tulis Strategy of Guerrilla Warfare.

Buku ini yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing dan menjadi buku wajib Akademi Militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat.

Sejak kecil Nasution senang membaca cerita sejarah, dari Sirrah Nabi Muhammad Saw sampai perang Kemerdekaan Belanda dan Francis. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.
Pak Nas suatu hari bercerita bahwa, katanya, ” Sulit bagi orang Batak/Sumut menjadi Pangdam Siliwangi, mungkin hanya saya dan Raja Inal Siregar saja yang bisa jadi Pangdam terbukti hingga saat ini belum ada putra batak menjadi Pangdam Siliwangi (Mengenang Tragedi 5 September, 16 Tahun lalu, Duka Bagi Sumatera Utara yang dimuat di Rentaknews.com)

Jenderal yang merupakan salah satu dari tiga Jenderal yang berpangkat Bintang Lima di Indonesia ini sejak kecil hidup sederhana, dan beliau tidak mewariskan harta pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman dalam perjuangaan dan ideologi. Beliau wafat di Jakarta 6 September 2000. Selamat jalan pak Nas, pengabdianmu telah Kau tunaikan.

Penulis : Abdul Aziz
Editor: Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram