1 Desember 2021

Malahayati Laksamana Wanita Pertama Dunia Asal Aceh, Disegani Dunia Barat.

Laksamana Malahayati

Serial Pahlawan Nasional

Jum’at 05 Nopember 2021 13.30 WIB


Medan-Rentaknews.com. Jika berbicara mengenai pahlawan, maka hal pertama yang terbayang yaitu sosoknya yang gagah berani dan tangguh melawan penjajah.
Pahlawan yang dimaksud tidak selalu berasal dari kaum pria. Hal itu mengingat Indonesia memiliki segudang wanita tangguh yang berjuang melawan penjajah.
Dari sekian banyak pahlawan wanita terdapat nama Malahayati yang di juluki sebagai Laksamana Wanita Pertama di dunia.

Keumalahayati atau lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati. Perempuan perkasa yang disegani lawan itu merupakan satu dari beberapa pahlawan wanita yang diakui jasa-jasanya oleh negara. Sebagai seorang pejuang yang mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajah di masanya, Malahayati menorehkan sederet kemenangan, sebagai pelaut muslimah asal Aceh yang mengagumkan.

Baca juga :

Malahayati dijuluki sebagai Laksamana wanita pertama yang melakukan pelayaran ke berbagai wilayah. Kemasyuran namanya disegani penjajah Belanda dan Inggris.
Sosok wanita pemberani yang bisa menjadi tauladan dan menginspirasi kalangan muda dari generasi ke genarasi. Malahayati lahir di Aceh Besar, tahun 1550.

Selain Artemisia I dari Caria, Malahayati termasuk laksamana pertama yang diketahui dunia modern. Ia merupakan cicit Sultan Salahuddin Syah, sejak muda Malahayati telah mendalami Akademi Militer Kerajaan, Ma’had Baitul Makdis.

Setelah menamatkan pendidikan sebagai santri, berbagai prestasi ditorehnya hingga berhasil menjadi Komandan Protokol Istana. Disana pula ia menjalin hubungan dengan perwira senior yang lantas menjadi suaminya. Selang beberapa waktu
nasib naas, sang suami gugur saat pertempuran di selat Malaka dengan pasukan Portugis.

Malahayati membentuk pasukan para janda pejuang aceh yang syahid di pertempuran selat malaka. Ia menjabat sebagai panglima dari Inong Balee (para janda pejuang) meskipun prajuritnya para janda, armada pimpinannya begitu tangkas di bidang militer, mereka menyusun sistem pertahanan yang kuat di daratan maupun di laut, yang lebih mengagumkan lagi, armada mereka memiliki benteng di teluk Lamreh Krueng Raya dan mempunyai 100 kapal.

Meskipun dia hidup saat itu ditengah – tengah kaum pria, Malahayati mampu mendapatkan penghormatan yang layak dari kaum adam, bahkan Malahayati ditunjuk secara langsung oleh Sultan Alahuddtangan9 Mansyur Syah menjadi laksamananya.
Kala itu Kota Aceh (Kuta Raja:red) sedang ketat – ketatnya menjaga perairan selat malaka agar tidak bernasib sama dengan tetangganya yang jatuh ke ta Portugis.

Para Jenderal dan Pasukan lainpun menaruh hormat kepada perempuan ini. Setelah berhasil mrnghadapi Portugis, kemudian Aceh menghadapi invasi dari Belanda. Setelah Armasa Pimpinan Cornelis de Houtman berhasil dikalahkan oleh Malahayati, giliran pasukan Paulus Van Caerden yang mencoba menerobos perairan Aceh tahun 1600.

Penjajah Belanda ini melakukan penjarahan dan mrnenggelamkan kapal bermuatan rempah, hal ini membuat Raja Aceh naik pitam. Hal ini disebut sebagai tantangan bagi Laksamana Malahayati. Ia memerintahkan penangkapan Laksamana Belanda, Jacob Van Neck pada 1601.

Perlawanan sengit dari armada Malahayati dan ancaman Spanyol membuat Belanda menyerah. Maurits Van Orange sang penguasa negeri kincir angin mengirim utusan diplomatik beserta surat permintaan maaf kepada kerajaan Aceh.

Kedua utusan itu diterima oleh Malahayati sendiri, hingga berbuah kesepakatan gencatan senjata. Belanda setuju membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi atas kerugian yang dilakukan Paulus Van Caerden, sebagai gantinya Malahayati membebaskan sejumlah tawanan Belanda yang ditahan.

Reputasinya begitu menggaung ke seantereo, kabar itu sampai membuat Inggris yang hendak melalui kerajaan Aceh ciut nyalinya. Mereka khawatir pasukannya akan kalah telak akhirnya Inggris mencoba berdamai. Bahkan Ratu Elizabeth I kala itu mengutus James Lancaster disertai surat permintaan izin kepada Sultan Aceh untuk membuka jalur pelayaran menuju Jawa, peristiwa ini terjadi tahun 1602.

Malahayati Gugur Sebagai Pahlawan.

Laksamana Malahayati meneruskan perjuangan untuk melindungi tanah kelahirannya sampai akhir hayat, ia gugur dalam pertempuran melawan armada Portugis yang dipimpin Alfonso de Castro juni 1615.

Laksamana Malahayati mendapat Gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia tahun 2017. Jasad Malahayati di makamkan di Gampong Lamreh Krueng Raya, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

Kehebatan Malahayati sebagai Laksamana Wanita di lautan membuat namanya di kenal di negara-negara lainnya, selain Belanda, Portugis dan Inggris yang pernah takut dibuatnya, nama Malahayati juga terkenal sampai negeri Tiongkok.

Penulis: Abdul Aziz
Editor : Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram