Sultan Assyaids Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin atau lebih dikenal dengan Sultan Syarif Kasim II

Ahad 07 Nopember 2021 10:00 WIB

IKLAN

Serial Hari Pahlawan

Medan-Rentaknews.com. Sultan Assyaids Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifuddin atau lebih dikenal dengan Sultan Syarif Kasim II, merupakan Sultan terakhir atau Sultan ke 12 Kerajaan Siak. Beliau memimpin selama 30 tahun yaitu dari tahun 1915 sampai dengan 1945. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Provinsi Riau mengabadikan namanya pada Bandar Udara Internasional di Pekanbaru dengan nama Sultan Syarif Kasim II yang semula bernama Bandar Udara Simpang Tiga.

Di Bandara Simpang Tiga pertama kali Sultan Syarif Kasim II melakukan pendaratan perdana dan meresmikannya tahun 1943 bersama permaisuri Tengku Agung Sultanah Latifah dan pembesar pemerintah Belanda. Sultan Syarif Kasim II lahir 11 Jumadil Awal 1310 H / 1 Desember 1893 M di Siak Indrapura.

Peristiwa besar Sultan Syarif Kasim II mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republuk Indonesia mengirim telegram kepada Soekarno – Hatta yang isinya berupa pernyataan bahwa, wilayah kerajaan Siak merupakan bagian dari Republik Indonesia.
Wilayah kerajaan Siak kala itu meliputi pesisir timur Sumatera, semenanjung Malaka dan daratan hingga ke Deli Serdang Sumatera Utara.

Dibawah kepemimpinan Sultan Syarif Kasim II Siak menjadi ancaman bagi pemerintah Hindia Belanda soalnya, dia secara terang-terangan menunjukkan perlawanan terhadap penjajah. Dengan lantangnya Sultan Syarif menolak Sri Ratu Belanda sebagai pemimpin tertinggi para raja di kepulauan Nusantara termasuk Siak.

Sultan yang amat menyadari pendidikan sebagai tonggak bagi perubahan suatu kaum, mencoba mendirikan sekolah – sekolah di Siak. Putra putri Siak yang cerdas dan berprestasi, mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan ke Medan dan Batavia.
Dalam melawan Belanda, ia memandang kekuatan fisik harus dimbangi dengan kekuatan pembinaan mental dan pendidikan rakyat.

Untuk itu, pada tahun 1917 SSK II mendirikan Sekolah Agama Islam yang bernama Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah. Sultan Syarif dihormati orang tidak hanya karena kedudukan sebagai Raja, tetapi karena satu kata dan perbuatan.

Beliau tidak hanya mendukung NKRI dengan maklumat dan pernyataan politik saja tetapi, juga menyumbangkan harta miliknya dalam jumlah yang sangat besar kepada Negara. Dia tidak hanya menyayangi rakyatnya dengan kata dan ungkapan, tetapi juga mencerdaskan lewat penyediaan sekolah.

Syarif mendukung perjuangan lewat seruan di istana, tapi juga hadir dalam kancah perjuangan dengan bantuan yang kongkrit. Sultan Syarif Kasim II meninggal dunia 23 April 1968 di Rumbai, Pekanbaru Riau. Meninggalkan dua orang istri tanpa dikarunia anak, baik dari permaisuri pertama, Tengku Agung dan permaisuri kedua Tengku Maharatu.

Puncak Perjuangan dan integrasi dengan Republik Indonesia.

Berita kekalahan Jepang tanpa syarat serta berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tersiar di daerah Kesultanan Siak pada akhir Agustus 1945.
Begitu Sultan mendengar berita proklamasi tersebut semangat pergerakan nasionalnya mencapai puncaknya, ia mengibarkan bendera merah putih di istana Siak.

Tahun 1946, ia berangkat ke Jawa menemui Bung Karno menyatakan bahwa kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan bagian dari wilayah Republik Indonesia sambil menyerahkan mahkota kerajaan serta menyumbangkan harta miliknya sejumlah 13 juta gulden (setara 120,1 juta USD atau Rp. 1.47 triliun kepada pemerintah Republik Indonesia.

Atas jasa-jasanya pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Syarif Kasim II atau kepada Sultan Siak ke -12 dengan Anugerah Tanda Jasa Bintang Mahaputra Adipradana oleh Presiden BJ Habibie melalui Kepres No. 109/TK/1998.

Penulis : Abdul Aziz
Editor : Adm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here