Haji Abdul Halim Pardede Pendakwah Islam di Bona Pasogit

IKLAN

Rabu 17 Nopember 2021 14:00 WIB

Medan-Rentaknews.com. Lobe Tinggi Pardede adalah nama beliau menjadi muslim, sebelumnya dia bernama Avinas Pardede. Haji Abdul Halim Pardede atau Lobe Tinggi Pardede, lahir di Lumban Jabijabi Balige 23 Juli 1870 dari ibu Nan tinggi br. Siahaan (Lumban gorat). Bapaknya yang bernama Raja Andreas Pardede. Setelah bapaknya meninggal beliaupun berangkat menuntut ilmu ke Padang Sidempuan selama tiga tahun, materi yang ditimbanya selama menuntut ilmu adalah, Ilmu Tauhid dan beberapa ilmu fikih yang menunjang ketauhitan bagi mualaf-mualaf, dan harus diakui ilmu ketauhitan atau dengan kata lain keimanan mereka sangat diuji.

Sebesar apapun faktor-faktor menggoda mereka dilingkup mayoritas ber agama kristen, boleh dikatakan tidak terpengaruh dan sikap mereka terhadap norma-norma tradisi adat Batakpun tetap dijaga dan terpelihara. Prinsip Dalihan Na Tolu adalah hal yang tidak mengganggu akidah mereka.

Setelah beberapa lama bermukim di Balige dan mengislamkan ibunya (boru Siahaan/Lumban Gorat) dan adik perempuannya si Boru tona yang menikah dengan Marga Tampubolon, kemudian keluarga istrinya bermarga Hutagaol/mejan.
Sekitar tahun 1916 Penganut agama Islam sudah mencapai 150 KK di Balige dan sekitarnya (mejan, Si Marmar, Persuratan, Hinalang, Tambunan).

Oleh karena sudah banyaknya keluarga Batak yang memeluk Agama Islam, maka umat muslim Balige dan sekitarnya merencanakan membangun satu masjid untuk tempat mereka beribadah, yang kemudian Lobe Leman Tampubolon mengurus perizinannya, Alhamdulillah setelah berjuang dengan gigihnya beliau mendapatkan izin mendirikan masjid pada 2 Januari 1918.

Beliau tidak sempat menikmati perjuangannya pada tanggal 22 Maret 1922 beliau wafat.
Perjuangan beliau dilanjutkan sahabat-sahabatnya, dengan membentuk kepanitian yang dinamakan Komite Mesjid Balige pada tahun 1923, dengan susunan pengurus sbb:

Haji A. Manap sebagai Presiden.

Lobe Tinggi Pardede ( Haji Abdul Halim Pardede) sebagai Vice Presiden, Haji M. Nawawi Nainggolan sebagai sekretaris dan Haji Selamat, Haji Umar sebagai anggota.

Selanjutnya beliau berdakwah ke Simalungun tepatnya kota wisata Parapat dan menetap disana, beliau menemui Raja Tanah Jawa dan Raja Siantar yang beragama Islam.
Kehadiran beliau di kota Parapat disambut baik dan bantuan kedua Raja tersebut tidak sedikit untuk perjuangan beliau.

Dengan berjalan kaki beliau berdakwah du sekitar kota Parapat, hingga perkampungan di lereng-lereng gunung, girsang mangundolok dan lain-lain.Untuk menopang perjuangan dakwahnya beliau dan keluarga membuka kedai nasi Islam.
Keberadaan restauran tersebut sangat menggembirakan pemilik bus-bus yang membuat mereka dapat beristirahat, dan saran penumpang agar ada tempat ibadahnya.

Sejarah Masjid Kota Parapat.

Tahun 1929 Lobe Tinggi Pardede membeli sebidang tanah disekitar bangunan Wisma Danau Toba sekarang untuk membangun masjid. Namun rencana beliau mendapat tantangan dari pihak Belanda, hingga beliau berkali-kali di interograsi oleh Belanda, tetapi akhirnya beliau dapat meyakinkan pihak Belanda itupun belum dapat mendirikan masjid, namun dapat mendirikan sebuah Mushalla di lahan yang sudah dibelinya.

Pada tahun 1940 Belanda kembali berulah dan mencari alasan agar Lobe Tinggi Pardede jangan sampai membangun Masjid permanen. Karena peralihan dari Musholla menjadi Masjid mendapat dukungan dari Raja Tanah Jawa dan Raja Siantar selaku Hurian Tanah Parapat.

Baru tahun 1952 rencana pembangunan Masjid terwujud setelah mendapat dukungan penuh dari Presiden RI Soekarno yang pernah berinteraksi dengan Musholla yang didirikan Lobe Tinggi Pardede sewaktu masa pembuangan oleh pemerintah Belanda di kota Parapat bersama tokoh Nasional H. Agus Salim. Meskipun Haji Abdul Halim Pardede tokoh Muslim daerah Toba dan Simalungun, namun dalam tatanan adat batak beliau tidak ketinggalan.

Kalau ada yang mengundang beliau serta keluarganya mereka akan memenuhi undangan tersebut meskipun jauh dan pengundangnya beragama lain dan keyakinan, beliau sangat mampu beradaptasi dengan lingkungan, hal inilah membuat orang lain menghormati Opu Si Toga doli Pardede.

Konsep dakwah moderat (Washatiyah) yang sekarang dikenal banyak kalangan jauh hari beliau telah menerapkannya. Kalau saudara seiman berkunjung ke kota wisata Parapat dan Insya Allah singgah dan sholat di Masjid Taqwa ini jangan lupa mengenang sejarah panjang perjuangan almarhum menegakkan Kalimah Allah dan mendoakan beliau agar Allah limpahkan rahmat-Nya kepada beliau.

Penulis: Abdul Aziz
Editor: Adm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here