9 Desember 2021

Kerinduanku padamu Ummi

Search yahoo.com. Ummi

Jum’at 26 Nopember 2021, 17:00 WIB

Medan-Rentaknews.com. Malam itu aku bermalam di Bandara Soetta  Cengkareng karena harus mengejar pesawat pertama ke Medan yang berangkat pukul 05.25 WIB. Jam tangan menunjukan pukul 22.00 WIB. Ini merupakan pengalaman yang sedikit tak mengenakanku, sebab belum pernah aku menginap dibandara. Kabar dari adik bungsuku kemarin sore yang mengatakan Ummi kurang sehat, kemungkinan harus opname membuatku harus segera pulang ke-Medan, janji dengan Manager Smartpren dan Alfamart untuk Mou pada program system acuntansi yang harus bertemu siang itu kubatalkan.

Aku ingin melihat kondisi Ummi secepatnya. Uang dua puluh lima juta langsung kutransferkan kerekening sibungsu Taufan adikku, untuk jaga-jaga bila Ummi harus opname. Malam tadi Tora ponakannku mengantarku kebandara Soetta, paginya jam 5.00 WIB, Ia harus bekerja, rumahnya di Bekasi, butuh 2 jam sampai bandara. Informasi dari security bandara diterminal 1A ada Red Corner, mushola yang juga nyaman untuk stay semalam. Meskipun saling terhubung antara terminal 1A, 1B hingga 1C, tetapi jarak tempuh untuk melewati ketiga section tersebut lumayan jauh, akhirnya kuputuskan untuk stay di terminal 1C.

Perutku terasa keroncongan, baru kuingat  sejak sore tadi  belum terisi makanan, kucari-cari tempat untuk beristirahat sejenak sembari makan malam. Ada sebuah outlet KFC terletak di sisi parkiran terminal 1C. Mushola juga terletak di sisi seberang dari terminal kedatangan 1C.  Syukurnya ada KFC yang buka  24 Jam. Selesai makan malam, akhirnya kurebahkan tubuh dikarpet hijau panjang Mushollah. Tas bawaan yang berisi laptop kudekap erat didadaku, takut hilang, sebagian memori otakku sejak sepuluh tahun terakhir sudah pindah ke dalamnya. Mungkin karena kecapean urusan sepanjang hari siang tadi, sebentar saja aku terlelap. Pukul 03.00 WIB aku terjaga, tubuh lumayan teristirahatkan. Bersihkan diri ditoilet, wuduk, qiamulail, baca qur’an, titip sedekah pagi kepetugas clining service dan berkemas untuk kemudian check-in. 

Saat check-in, pintu masuk di terminal keberangkatan terlihat ramai. Sebagian orang mungkin juga sedang mengejar penerbangan pagi ke tujuannya masing-masing.  Waktu keberangkatan pesawatku 05.25 WIB, pukul 04.55 mulai boarding. Waktu subuh 04.40 WIB. Ada waktu sekitar 15 menit untuk melaksanakan sholat Subuh. Aku terburu-buru masuk dalam pesawat, seorang pramugari menyapaku, “ selamat pagi, seat berapa pak,?” sapanya lembut, “pagi, diseat 44 B, “ jawabku singkat, “silahkan pak”. Kulepas ransel jinjing dan meletakannya dibagasi, seorang bapak kira-kira berusia 65-70 tahunan duduk sendiri diseat 44 A, kami duduk pas bersebelahan.

Sambil menunggu pesawat take off yang akan menerbangkan  kami ke Medan, Ia menyapaku.“ mau ke Aceh juga ya nak,” sapanya padaku, “ ndak pak, saya ke Medan, pak, Bapak mau ke Aceh ?,” jawabku tersenyum. Kuperhatikan wajahnya dan logatnya, aku yakin ia bukan orang Aceh, “ iya,” jawabnya lagi sambilan menyodorkan tangan kepadaku, kusambut tangannya, sambil mencium tangan, kebiasaanku yang diajarkan Ummi kalau berjabatan tangan dengan orang tua, apalagi sebaya orang tuaku. “Bapak sendiri berasal dari Aceh?”, kataku lagi, “nggak, saya dari Solo, kebetulan sepupu saya ada di Aceh, sekedar bersilaturahim aja nak.” Jawabnya, senyumnya datar.

Menghela napas panjang. “Anak kerja dimana ?”, saya sih pak, masih programer IT freeline”, jawabku seadanya.  “programmer freeline, tapi sudah cukup mapan, ya nak?” Ia tersenyum.” gak juga pak, saya tinggal di Semarang, di Jakarta ada bisnis dengan Smartpren dan Alfamart, Ummi saya di-Medan sedang kurang sehat, adik bungsu saya menelepon kemaren, jadi buru-buru harus urus emak dulu,” jelasku padanya, “wah, Ummi kamu bangga, punya anak berbakti seperti kamu nih nak”, “kalau saya sangat mapan nak, tapi jiwanya galau, alias tak tahu mau kemana,” jawabnya menghiba. Aku tertegun dalam hati, sambil memperhatikan wajahnya, “koq bisa gitu ya pak,” buru-buru kutanyakan lagi, “maksudnya apa pak ?,” jawabku sedikit heran.

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja di Perusahaan Kanada, di sebuah perusahaan kontraktor terkemuka dunia. Dan tinggal di Perancis sejak sepuluh tahun terakhir, sedangkan sibungsu, sedang menyelesaikan program graduate of the Master of Public Administration in International Development program at the Kennedy School of Government, Harvard University.

Ia bercerita tentang rumahnya yang cukup mewah di kawasan elit Pantai Indah Kapuk Jakarta, yang hanya dihuni oleh dirinya seorang, ditemani  dua orang satpam, dua orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata dengan tissue, sesakali tersedu. Lanjutnya lagi, “nak bahagia sekali Ummimu, memiliki anak-anak yang sayang kepada orang tuanya, saya gagal mendidik anak-anak saya,” lanjutnya lagi, “ harta saya berlebih, kini terasa sia-sia saja. Rasanya tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini.

Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Saya sadar, semua ini akibat kesalahan masa lalu yang selalu memburu hidup dengan kemewahan, sampai lalai mendidik anak-anak beragama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua,” katanya dengan derai air mata yang terus mengucur. Lanjutnya lagi, “ hal yg paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya opname di RS Harapan Kita, kanker servix telah menggerogoti tubuhnya, anak saya yang sulung hanya berkirim WA tak bisa pulang mendampinginya, hanya alasan sepele, harus meeting dengan koleganya. Sibuk…, mereka berdua sangat sibuk. “iya…, sibuk sekali, ujarnya lagi.

Sementara ia hanya mengabari lewat WA, “maaf papa dan mama saya sedang mid-test, jangan sampai gagal, tahun ini harus selesai, do’a kami semoga mama cepat sembuh ya,” ia menjawab lewat WA, padahal mamanya sedang menghadapi sakratul maut saat itu”, ceritanya lagi, air matanya semakin menetes deras.

Aku tak tahu harus berbuat apa,“ bapak harus bersabar.”, tidak ada kalimat lain yang bisa kuucapkan selain itu. Ia tersenyum kecut. Ia mengelus bahuku dan aku jadi teringat almarhum ayah di-Medan 15 tahun lalu. Spontan saya memeluk Bapak tersebut. Tanpa sadar air mata ini menetes deras, kejadian ini semakin menyadarkanku, bahwa mendidik anak tujuannya shaleh bukan kaya. Tanpa kita santunipun rezki anak sudah dijamin Allah, namun tidak ada jaminan keimanan bagi anak yang tidak didik agama, orang tua harus berusaha keras mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang shaleh.

Di pesawat, menjelang landing dibandara KNIA, kerinduan kepada emak dan adik-adikku semakin terasa, padahal walau baru ketemu beberapa bulan lalu, rasanya hampir setahun Ummi tak kucium tangan dan pipinya, sebagaimana kebiasaanku setiap pergi dan pulang sekolah. Bersama istri dan anak-anak dari Semarang mudik ke-Medan setiap tahun rasanya kurang cukup melepas keriduan kepadanya.

Teringat masakannya, teringat kelembutannya, teringat kasih sayangnya. Kulempar pandangan ke luar jendela, kota Medan sudah terlihat jelas disinari cahaya pagi diatas ketinggian 16.000 kaki. Kuyakin Taufan adik bungsuku sudah bersiap-siap berangkat kerja, sengaja tak kukabari kalau pagi ini aku akan menjenguk Ummi dan adik-adiku di-Medan.

  • Penulis : TI Abdullah
  • Editor : Adm
Please follow and like us:
Pin Share

1 thought on “Kerinduanku padamu Ummi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram