11 Agustus 2022
107 Pengunjung

Jum’at
27 Rabiul Akhir 1443
03 Desember 2021

Dalam membangun program hidup Islami, setiap Muslim harus merujuk kepada nilai dan norma Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Allah SWT berfirman :

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ

Artinya : “(Allah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 67:2)

Ada sebuah ungkapan sederhana yang menyindir orang-orang yang lalai tentang program hidupnya, “orang bodoh hidup untuk makan, namun orang bijak makan untuk hidup.”

Kemudian apakah tujuan hidup seorang Muslim? mungkinkah hanya untuk bertahan hidup?, tentunya tidak, setiap Muslim harus tahu untuk apa ia dihidupkan, darimana ia berasal, serta ia harus tahu akan kemana setelah hidup berakhir.

Firman Allah SWT :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya : Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia. (QS Al Ghafir 40:67)

Pada ayat diatas merupakan penegasan Allah SWT, bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang asal kejadiannya dari tanah. Allah SWT juga menerangkan tentang proses kejadian manusia ketika manusia dalam kandungan.

Allah SWT juga memberikan informasi tentang perkembangan hidup manusia setelah lahir ke dunia, diantaranya ada yang diwafatkan setelah mencapai usia tua ,ada juga yang belum mencapai usia tua.

Ulama besar, Muhammad Al Ghazali, pernah berkata bahwa pemahaman hidup yang dangkal adalah sebuah tindak ‘kriminal’ yang keji. Disebut demikian karena pemahaman yang dangkal ini akan membawa kepada ketersesatan dari jalan menuju akhirat yang bahagia.

Semisal, apabila seseorang memandang hidup dengan gaya hidup yang dangkal, boleh jadi ia akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta, tidak memperdulikan apakah itu halal ataukah haram.

Ujian dalam hidup kita bukan saja kesulitan ataupun musibah, namun juga berupa nikmat atau kemudahan dari Allah SWT, seperti keluarga, suami, istri, anak-anak, harta, kekuasaan, pangkat, ataupun jabatan.

Kisah Nabi Sulaiman as yang diberikan nikmat luar biasa oleh Allah SWT. Allah SWT memberikan kerajaan yang sangat kaya, luas dan besar, yang pasukannya terdiri dari manusia, jin, hewan, dan angin, bahakan Allah berikan kemampuan berbicara dengan hewan.

Semua kenikmatan itu tidak menjadi Nabi Sulaiman as menjadi sombong, kemudian mengingkari Allah SWT, namun menjadikannya sering ber-muhasabah, melakukan introspeksi diri, berhati-hati menjaga amanah, takut kufur kepada Allah SWT.

Namun tidak sedikit manusia yang gaya hidupnya hanya mengejar kekayaan dan kesenangan semata, maka segala hal harus diukur sejauh apa materi yang telah didapat dan diperuntukan untuk mendukung gaya hidupnya.

Bahkan tidak sedikit yang gaya hidupnya, hanya untuk bersenang–senang menghumbar nafsu, menikmati hidup sepuas-puasnya.

Mengejar tanpa batas jabatan serta kedudukan tinggi ditengah masyarakat. Ambisi tersebut terus dikejar dengan berbagai cara, apabila telah tercapai, iapun khianat atas jabatan yang didapatnya.
Orang-orang dengan gaya hidup seperti ini akan membahagiakan diri sendiri dengan memperturutkan hawa nafsunya dan berbagai cara, apapun ditempuh untuk meraihnya.

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 14: 7)

Seorang hamba yang memahami arti kehidupan, akan mengatakan “tujuan hidup manusia diciptakan ke dunia ini hanya satu, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT”,

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: 56)

Dari ayat tersebut dapat diambil makna bahwa tujuan Allah menciptakan manusia dimuka bumi. Allah tidak melepaskan begitu saja setiap makhluknya.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak hanya hidup untuk makan, minum, tidur, melepas lelah, dan mencari nafkah untuk melanjutkan hidup, namun dibalik itu semua kita mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk beribadah dan taat hanya kepada Allah.

Beribadah, itulah tujuan dan gaya hidup kita, sebagai hamba yang diciptakan-Nya, bukan berarti Allah SWT membutuhkan kita sebagai makhluknya. Bahkan sebaliknya, kitalah yang sangat membutuhkan Allah.

Allah SWT tidak membutuhkan apapun pada hamba-Nya. Walaupun kita diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya, itu bukan berarti Allah yang membutuhkan kita.

Allah SWT berfirman:

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

Artinya : “Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: 57)

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Artinya : “Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Az-Zariyat 51: 58)

Sesungguhnya, itulah alasan kenapa kita diciptakan dan mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada-Nya, dan semua gaya hidup terbaik disusun hanya untuk Allah SWT semata, karena kita membutuhkan Allah didalam kehidupan ini.

Penulis : TI Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *