18 Januari 2022

Volkswage yang Klasik, Legendaris dan Masih Mempesona

88 Pengunjung

Medan-Rentaknews.com
Reporter Rentaknews.com berkesempatan menyambangi salah satu bengkel reparasi sekaligus modifikasi di seputaran Marelan, Kamis (2/12). Berlokasi di Jalan Marelan VII Pasar 1 tengah ujung.

Terlihat para montir mengerjakan pelbagai aktivitas. Ada yang mengelas, modif, mengecat, memeriksa kelistrikan bahkan ada yang merekondisikan mobil yang sudah tinggal rangka. Di dalam bengkel penuh rongsokan mobil yang tinggal rangka, bagian mobil terpisah dan sparepart. Sedang di luar terdapat mobil yang sudah masuk tahap finishing dan test Drive hasil dari modif dan perbaikan.

Suara hingar bingar ketukan ketok magic dan desingan gesekan pemotongan diiringi serpihan api yang memendar ikut meramaikan suasana. Ridwan (48), Mekanik handal yang dipercaya sebagai kepala sedang memeriksa jalur kelistrikan dan ketebalan cat yang telah disemprot anggotanya. Lain lagi Septian (50) berkonsentrasi pada dempulan mobil yang telah di modif. Sedangkan Andi (40), pemilik bengkel mengawasi dan memastikan semua pekerjaan sesuai dengan kriteria.

Ada sebuah mobil VW Safari yang menjadi perhatian saya. Pemiliknya kebetulan duduk di warung sedang memperhatikan montir yang membetuli shock ban belakang yang sering bergetar. Azwar (63), warga Titi Kuning yang sedang mengawasi mobilnya. Warna cat coklat muda dan tenda mobil warna hitam membungkus ketat membentuk lekuk indah pada bodi atas mobil.

Mobil VW terdapat banyak varian bahkan sampai model terbaru yang terakhir diproduksi tahun 2019 lalu di Mexico. Sedangkan di bengkel tanpa nama ini hanya mengkhususkan pada VW klasik. Azwar bersedia memberi bocoran tentang mobil dan hobby mengendarai VW ini bahkan sejak ia mengenal mobil pertama kali. Wajahnya sumringah dan bersemangat menceritakan pengenalannya dengan mobil klasik ini.

Tahun 1984, awal ketertarikannya memiliki mobil VW. Awal mula ia memakai mobil VW Beetle atau lebih di kenal VW Kodok. Bentuknya yang menyerupai kodok di tambah dengan rangka yang kuat. Aksesoris dan interior yang sederhana dan fungsional, ikut menumbuhkan rasa cinta pada mobil klasik ini. “Saya memakai VW Kodok 61. Lalu pernah beralih ke jenis VW Combi yang memiliki interior luas dan lapang lalu pernah juga memiliki VW tahun tinggi. Dan saat ini kembali ke model klasik yaitu VW Safari Made in Germani”.

VW Safari buatan Jerman terakhir di produksi sampai pertengahan 1974. Sedangkan punyanya rakitan tahun 1973 awal. Yang membedakan dengan produksi buatan Mexico adalah adanya tabung petak di samping kiri dan kanan belakang dekat pintu samping. Posisi lampu juga berada di belakang agak ke atas dari bumper. Sedangkan buatan Jerman tidak memiliki tabung dan posisi lampu belakang tepat di bawah bumper.

“Yang lebih menarik lagi bahwa suspensi ban belakang mampu menyesuaikan keadaan medan jalan dengan dapat mengembang (menekuk ke dalam) atau keluar saat jalan dilalui ada hambatan. Pada saat belokan tikungan tajam, mobil ini mampu berakselerasi sempurna hingga ketika mengendarainya tidak mengalami hambatan,” tuturnya.

Dia menyebut, Mobil VW Safari ini pernah menjadi kenderaan dinas para Camat pada tahun 1978. Pilihan pada mobil ini dikarenakan mampu menempuh segala kondisi jalan dan nyaman dikendarai. Kelebihan pada VW Safari ini karena kaca depan mobil dapat di lipat dan kursi model datar. Mobil klasik VW ini sangat sering dipakai oleh para penggila otomotif saat tour. Perawatan dan biaya bulanan sangat hemat dengan kapasitas tangki 60 liter dan mampu menempuh jarak 100 km/jam dengan pemakaian setiap 1 liter mampu menempuh jarak 10 km.

Jenis VW Klasik yang jadi idola terbanyak adalah VW Kodok. Dalam berbagai tur, jenis ini yang mendominasi ketimbang Safari dan Kombi. Jenis Kombi lebih sering dimodifikasi untuk keperluan niaga, seperti menjadi Mobil Cafe dan usaha bisnis lainnya berbasis kenderaan. VW Kombi berbadan lebar dan panjang, memang ditujukan buat keluarga besar.

“Dalam hal sparepart masih banyak tersebar toko yang menjualnya. Seperti di Jalan Bukit Barisan dekat UMSU, jalan Krakatau dan beberapa titik di kota Medan. Tetapi dalam hal perawatan harus di service di tempat khusus spesial bengkel VW, ujarnya”.

Andi (pemilik) menuturkan bahwa bengkel ini telah berjalan 6 tahun yang dijalankan berdua dengan adiknya Sigit (34). Pelanggannya banyak juga berasal dari luar kota seperti Lubuk pakan, Kisaran, Pekanbaru bahkan ada yang dari Palembang. Kepercayaan dan kepuasan pelanggan jadi prioritas mengingat pemilik mobil klasik ini tidak sebanyak mobil lainnya.

Setiap hari pekerjaan tidak pernah kosong. Karena selain reparasi dan modifikasi, bengkel juga melayani jual-beli dengan sistem titip dan pesanan (indent) dari para penjual atau pembel.

Terkadang pelanggan menyerahkan mobil VW dalam keadaan terduduk dan bersedia untuk di reparasi sampai layak jual. Sedangkan biaya keseluruhan ditanggung oleh pelanggan. Setelah dapat beroperasi maka kembali di jual. Biaya operasional mendekati 50 juta dengan nilai jual kisaran 65-130 juta, tergantung seberapa klasik dan ori-nya mobil tersebut. (r/Rudi Hartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LATEST NEWS