18 Januari 2022

Kajian Ahad Ba’da Subuh: “Perkara Duduk Dalam Sholat”

58 Pengunjung

Medan-Rentaknews.com
Pengajian Ahad ba’da Subuh di Mesjid Baiturrahman,Jalan Marelan VI pasar 2 Timur lingkungan 24 Medan Marelan. Seperti biasa setelah baholat Subuh, seluruh jamaah mengikuti kajian agama setiap dua Minggu sekali, di awal bulan Ahad pertama dan Ahad ke tiga.

Kaki ini Ustadz Drs.Mahyuddin Siregar,MA bertindak sebagai penceramah kajian fiqih tetap yang mengambil tema mengenai perkara duduk dalam sholat.

Tentunya dalam sholat, gerakan-gerakan tidak boleh tanpa adanya tuntunan dan anjuran. Tuntunan itu sifatnya wajib sementara anjuran sifatnya Sunnah. Jika keduanya dilaksanakan maka wajib dan sunnahnya diperoleh bersamaan.

Diantara gerakan sholat yang harus difahami adanya duduk tahiyat awal dan duduk tahiyat akhir. Keduanya kelihatan hampir sama, tetapi dalam prakteknya ada perbedaan.

Gerakan duduk dalam sholat terbagi dua yaitu duduk iftirasy dan duduk tawarruk. Duduk Istirasy adalah duduk menegakkan kaki kanan menyentuh lantai dengan posisi jari-jari kaki menghadap kiblat secara keseluruhan. Posisi kaki melengkung sesuai arah kiblat. Dan kaki kiri yang menempel di lantai diduduki pantat.

Sementara duduk Tawarruk posisi hampir sama dengan Istirasy yang membedakan adalah kaki kiri tidak diduduki melainkan dijulurkan sejajar di bawah, pantat menempel lantai.

Prihal posisi tangan kanan berada di atas paha atau lutut. Ada dua pendapat mengenai posisi jari ketika gerakan istrasy dan Tawarruk, sebagian ulama membolehkan langsung menunjuk (jari telunjuk) menghadap lurus dan jari lainnya dengan posisi di genggam pola 53.

Pola 53 ini lazim dilakukan bangsa Arab ketika terjadi transaksi jual beli khususnya ketika terjadi transaksi jual beli hewan ternak.

Ada juga ulama berpendapat untuk mengangkat jari telunjuk yang sebelumnya posisi telunjuk menghadap ke depan tetapi menunduk. Dan diangkat tinggi ketika ucapan “Ilaha Illallah” lalu kembali keposisi sedikit turun tetap menunjuk ke depan.

“Lantas, bagaimanakah pola 53 itu?, yaitu dengan menggenggam tiga jari menekuk kedalam yaitu jari tengah, manis dan kelingking yang menempel di atas paha. Sedangkan posisi telunjuk terbuka menghadap depan, posis ibu jari merapat menempel lurus dengan jari telunjuk. Setiap jari yang tergenggam melambangkan angka 1, sedangkan jari yang terbuka melambangkan angka 100, jika ditempel dengan posisi ibu jari melambangkan 50. Artinya jari telunjuk dikurangi dengan posisi ibu jari menjadi 50 (100-50). Hal inilah dikatakan pola 53. Ini yang disunnahkan”, ujar Mahyuddin.

Ketika melaksanakan sujud sahwi akibat keterlupaan jumlah raka’at atau gerakan sholat, disunnahkan untuk duduk Istirasy terlebih dahulu ketika melakukannya, lanjut duduk Tawarruk ketika selesai membaca doa sujud sahwi sebagai akhir pelaksanaan sholat.

Hal ini perlu diperhatikan agar mendapat Sunnah dalam pelaksanaannya. “Apakah sholat dilaksanakan sah jika tidak melaksanakan hal diatas?, tentu sah dalam sholatnya tetapi tidak mendapatkan Sunnah”, tandasnya.

Dalam pelaksanaan sholat terhadap kegiatan duduk ini, masih banyak terdapat kekeliruan tentang bagaimana posisi duduk dan posisi jari tangan diletakkan kemana. Sunnah itu dikerjakan merupakan “keuntungan” tersendiri karena mendapat nilai plus mencapai 27 derajat bahkan lebih. Tetapi jika tidak dilaksanakan maka hal itu kurang sempurna dalam pelaksanaan ibadah sholat.

Petunjuk tentang duduk Istirasy dan duduk Tawarruk ini telah dijelaskan Syech Abu Bakar Muhammad Syatta, Hasyiyah I’anah, At-Thalibin, juz 1 halaman 95. Dalam ceramahnya, beliau menuturkan bahwa hal ini penting untuk diketahui umat Islam mengingat masih banyak kesalahan yang dilakukan.

Ustadz Drs.Mahyuddin, MA, (71), merupakan ustadz yang mengkaji ilmu fikih dan Ushuluddin yang termansyur di kota Medan.

Dia banyak mengisi pengkajian ilmu di berbagai mesjid dan pengajian yang juga seorang dosen pengajar dipelbagai universitas di kota Medan.

Setiap kajiannya menarik, pembahasannya jernih dan lugas. Intonasinya jelas dan mudah dipahami jamaah. Apalagi intonasi suaranya memukau khalayak untuk terus terlena mendengarkan tausiyah agama. (r/Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LATEST NEWS