18 Januari 2022

Bakso Bakar “Juminem”, Lidah Bergoyang dan Rasanya Paten

63 Pengunjung

KULINER

Usaha Bermula dari Suami Putus Kontrak Kerja di Pabrik

Medan-Rentaknews.com. Bakso bakar, jajanan favorit tanpa memandang usia sangat digemari semua kalangan. Berbagai macam olahan bakso yang beredar di pasaran. Ada yang di olah menjadi bakso goreng, bakso bakar, bakso kuah dan lain sebagainya. Berbagai variasi ini menyajikan cita rasa tersendiri bagi penggemarnya.

Begitu juga dengan bakso bakar. Ada yang menjual dengan tambahan kuah padang atau kuah kacang persis kayak pedagang sate padang. Lalu ditaburi bawang goreng untuk penguat aroma. Ada juga yang memakai bumbu rahasia yang dioles dengan kecap dan saos.

Reporter Rentaknews.com Senin malam (6/12) kebetulan melintas dan merasa lapar mendadak. Aromanya sungguh menggoda dan sayang untuk dilewatkan. Berlokasi di jalan Marelan I Pasar IV Barat Marelan, tepatnya di Simpang jalan Cerut. Lokasinya strategis di antara jalan arah ke pasar 3 belok kiri dan arah ke pajak UKA terjun. Pembeli sudah mulai antri menunggu pesanan.

Sebuah warung berukuran 2×2 meter. Dengan sebuah stelling ukuran mini 100×60 cm dan pembakaran berdiri ukuran 80×10 cm di samping kanan.

Di atas stelling ada jajanan keripik yang tergantung. Di sekitar meja sebagai tempat stelling terdapat pula bumbu oles yang terdiri dari saos dan kecap dalam wadah toples plastik. Dan sebuah mangkok bulat transparan tempat bumbu olahan rahasia sebagai bumbu bakar.

Ada berbagai macam varian olahan bakso yaitu bakso bulat kecil seukuran telor puyuh dan tahu isi bakso. Ada pula tempe yang dipotong-potong kecil ukuran 5 cm memanjang, ada ceker ayam yang di tusuk 2 potong, kepala ayam berisi dua potong dan ada pula sosis yang disayat-sayat tipis yang telah dipanggang.

Di bawah bakaran ada ember yang berisikan arang. Mula-mula bakso yang telah ditusuk diolesi bumbu bakar lalu dipanggang. Kemudian diangkat kembali diolesi saos dan kecap pakai kuas sampai merata. Dipanggang kembali tak lebih 10 detik, lalu diolesi kembali dengan bumbu rahasia sampai aromanya menggugah selera.

Terlihat berbagai pesanan terpanggang di pembakaran. Aromanya membuat pengunjung menelan ludah membayangkan kelezatan.

Juminem (47), menuturkan bahwa usaha ini sudah berjalan 7 tahun lamanya. Berasal dari suami yang putus kontrak kerha di pabrik sarung tangan, bingung mencari nafkah. Kemudian iseng-iseng Juminten mengusulkan membuat warung bakso bakar.

Dengan modal 2 juta rupiah, mulailah mereka mencoba peruntungan di depan rumah. Kebetulan rumah mereka berada di pinggir jalan. Semua perlengkapan dan peralatan di beli. Warung sudah ada sebelumnya karena dulu adiknya berjualan tapai ubi dan jajanan anak-anak.

Awalnya hanya sekilo olahan daging ayam yang digiling. Memperoleh sekitar 100-120 tusuk bakso dan tahu isi bakso. Lalu ditambah varian empelo, ceker. Empelo hilang lalu diganti kepala ayam dan ceker.

Tahun pertama masih berkisar 100-300 tusuk berbagai varian. Lalu meningkat lagi jumlahnya hingga 5 tahun belakangan ini mampu mengolah 1000-1200 tusuk bakso.

Variannya bertambah dengan tempe bakar yang mulai digandrungi pelanggan. Layaknya usaha ada jatuh bangun. Semua tergantung rasa, pelayanan dan keramahan terhadap pelanggan. Apalagi saingan yang berkeliling setiap gang sudah bertebaran menjajakan bakso bakar. Tapi Juminem yakin bahwa rejeki itu sudah ditetapkan Allah.

“Yang penting bersyukur dan selalu meningkatkan cita rasa agar tetap punya ciri khas”, ujarnya berfilosofi.

“Dari anak-anak sampai orang dewasa suka nongkrong di sini dek, sambil cuci mata menikmati senja diiringi celetuk dan canda tawa”, ujarnya.

Reporter anda mencicipi hidangan bakso yang telah dipesan. Hmmm….rasanya memang beda. Olahan baksonya terasa gurih. Rasa garam, merica dan aroma kaldu tercampur menjadi satu di daging bakso.

Apalagi olesan bumbu bakar rahasia meresap sampai ke dalam daging bakso. Saos dan kecap dioles sekedarnya. Ketika berada di panggangan, aromanya menusuk hidung dan jakun turun naik menelan ludah ingin menyantapnya segera.

Pagi pukul 06.00 WIB, belanja setiap hari di pasar (pajak) pasar V Marelan untuk kebutuhan jualan.

Mulai dari daging ayam 4 kiloan yang digiling di penggilingan, tahu isi, tempe, kepala dan ceker. Tak lupa bumbu bakar seharga 50 ribu dan kebutuhan pelengkap lainnya.

Pengeluaran untuk belanja berkisar Rp.700 hingga Rp.800 ribu, tergantung naik turunnya harga kebutuhan. Diolah dari pagi, Juminem di bantu suami (Sofyan) dan dua orang anaknya yang beranjak dewasa.

Sekitar pukul 16.00 WIB dagangan digelar di depan rumah. Dan biasanya pukul 22.00 WIB sudah tutup.

Dari hasil penjualan rata-rata omset Rp. 1 sampsi Rp1,2 juta. “Alhamdulillah, sekarang penjualan sudah normal, langganan pun bertambah banyak”, ujarnya sumringah.

Juminem tidak ingin menambah besar usahanya dan tidak ingin meminjam modal di bank. “Sebegini aja sudah ribet dek, ludes saja tiap hari untung sudah lumayan”, jawabnya.

Kalau dihitung secara kasar, paling tidak 200-400 ribu keuntungan diperoleh setiap malamnya. Kelihatan sepele, ternyata keuntungannya lumayan gede. Anda berminat?, coba saja sendiri, bisa jadi peruntungan Anda berawal dari usaha ini.(h/Rudi)

Reporter
RHO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LATEST NEWS