15 Agustus 2022

Relawan dan Stakeholder Siap Bersinergi Benahi Management Kebencanaan di Sumut

191 Pengunjung

Medan – Rentaknews.com. Erupsi Gunung Semeru menjadi trending topik di Dunia. Sejumlah Forum Relawan Sumatera Utara menggelar diskusi publik atas bencana tersebut di kedai Pandawa Kayak, Taman Pramuka Cadika, Jalan Karya Wisata Medan, Rabu (08/12/2021).

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (06/12/2021) pukul 20.15 WIB, setidaknya 22 orang tewas, sementara 22 orang dinyatakan hilang dan 56 lainnya mengalami luka-luka. Erupsi Gunung Semeru ini juga berdampak terhadap 5.205 jiwa.

Ketua Komunitas Siaga Bencana (Kogana) Sumatera Utara, Benny, mengungkapkan dengan kejadian meletusnya Gunung Semeru ini, mengindikasikan adanya kelalaian dari pihak PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) terkait mitigasi dan manajemen evakuasi, yang mengakibatkan jatuhnya korban akibat guguran awan panas.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki jumlah gunung api aktif sebanyak 127, terbanyak di dunia dan menduduki peringkat pertama dengan jumlah korban jiwa terbanyak dalam kejadian bencana geologi. Dari 127 gunung api tersebut, baru hanya 69 gunung api aktif yang dipantau oleh PVMBG.

Kepala BPBD Sumatera Utara, Abdul Haris Lubis mengungkapkan sangat bangga kepada kawan-kawan relawan hari ini dapat berkumpul dalam menanggapi adanya korban bencana meletusnya Gunung Semeru, kiranya ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menghadapi bencana dan memitigasi jika terjadi di Sumatera Utara.

“Provinsi Sumatera Utara memiliki Gunung Sinabung yang masuk dalam satu cincin api (Ring of Fire) , dimana Gunung Sinabung ini berada di Level III yang artinya siaga” tambahnya.

Gunung Semeru meletus pada Sabtu tanggal 04 Desember 2021. Letusan gunung api ini yang terletak di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang yang menyebabkan guguran lava dan awan panas yang melanda sejumlah daerah disekitarnya.

Kepala Kantor Search And Rescue (SAR) Medan, Toto Mulyono mengungkapkan turut berduka cita sedalam dalamnya atas adanya korban bencana meletusnya Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Tim SAR yang berada disana sedang bertugas dengan sebaik-baiknya atas nama kemanusiaan.

Kepala BPBD Kota Medan, M. Husni mengungkapkan pergerakan potensi-potensi bencana di Sumatera Utara banyak berasal dari Kota Medan, jadi perlunya berkolaborasi antara para stakeholder bencana yang berada di Kota Medan.

Husni mengungkapkan harus ada geralan moral, untuk membangun jiwa kemanusiaan bagi masyarakat kota medan sehingga bisa menjadi relawan-relawan tangguh dalam penanggulangan bencana.

Dia mengatakan akan membentuk lembaga yang mewadahi para relawan.
Sementara Mulyadi yang akrab disapa Kak Mul oleh para relawan yang paling senior di pertemuan ini mengungkapkan sejak terjadinya bencana di NAD dan telah meratifikasi Undang-Undang Kebencanaan sehingga lahir UU No. 24/2007 tentang penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah.

“Kita harapkan sistem penanggulangan bencana di Provinsi Sumut, Pemkab, Kota bisa lebih baik, mereka bisa membuat rencana Kontijensi, Rencana Operasi, Rencana Gladi dan rencana – rencana aksi lainnya, terutama aksi Pra Bencana,” ungkap Mulyadi.

Sebanyak lebih dari 20 orang berpartisipasi mengikuti diskusi ini yang terdiri dari Kepala BPBD Sumatera Utara, Kepala BPBD Medan, Kepala Basarnas Medan, Mantan Kepala BMKG Maritim Belawan Pembina Relawan Indonesia Sumut , Abdul Aziz, Herryansyah T. Rescue, Meeng BWS, Yudha Lesmana aktifis lingkungan, PMI Karo, , Kogana Medan, Kogana Sumut, SAR-JSI, ITC, Teratasi Rescue, Kopasude serta Lentera Pertiwi Sumatera.

Aziz menekankan dalam penanggulangan bencana sangat diperlukan sekali koordinasi dan kerjasama dalam satu komando pungkasnya. (r.Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *