18 Januari 2022

Tausiyah: “Seperti Ini Sanksi Berat Bagi Pezina, Pembunuh dan Murtad”

76 Pengunjung

Illustrasi: pezina dihukum Rajam

Termaktub dalam kitab Syarah hadits Arbain, hadist 14; “Dari Ibnu Mas’ud radiallahu’anhu, dia berkata : Rasullullah Sallallahu’alihim bersabda : ” Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah Sallallahu’alaihi Wassalam) adalah utusan Allah kecuali 3 sebab ; orang tua yang berzina, membunuh orang lain dengan sengaja, dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaah”. (Hadist Riwayat Bukhori dan Muslim).

Medan-Rentaknews.com. Ustadz Drs.Tukimin, MA, dosen, dan juga pengurus di salah satu travel haji berkesempatan mengisi tausiyah di Mesjid Taqwa, dengan topik kajian Jum’at malam, “Larangan Berzina, bertempat dijalan Marelan IV, Pasar 3 Timur, Marelan, Medan.

Kajian kali ini tentang Syarah Hadits Arbain karangan Imam besar An Nabawi, ulama terkenal dari Indonesia yang menjadi rujukan umat Islam dunia dalam mendalami ilmu agama.

Ibnu Mas’ud adalah seorang pelayan Rasulullah Sallallahu’alaihi Wassalam sebelum Anas bin Malik. Beliau adalah seorang pengembala domba milik seorang kafir Quraisy. Ibnu Mas’ud termasuk orang ke lima yang pertama kali bersyahadat (Assabiqul Awwalun), lahir di Mekkah pada tahun 596 M, wafat pada tahun 653 M.

Ibnu Mas’ud juga termasuk salah satu dari empat orang yang direkomendasikan Rasullullah untuk umat Islam menimba ilmu pada beliau khususnya dalam tilawah (membaca) Al-Qur’an yang sesuai dengan perintah Nabi Sallallahu’alaihi Wassalam.

Kajian tentang Zina

Zina Muhson, zina yang dilakukan oleh salah satu pasangan suami maupun istri yang sudah bercerai melakukan perselingkuhan (persetubuhan) dengan lawan jenis yang didapati (disaksikan) oleh 4 orang saksi.

Jika hal ini dilakukan maka dalam hukum Islam menurut hadist ini wajib dihukum dengan dibenamkan bagian tubuh tersangka ke dalam tanah dari kaki sampai pinggang dengan posisi tangan terikat. Lalu orang-orang melempari mereka (pelaku) berdua dengan batu tanpa belas kasihan sampai mati (meninggal dunia). Hukuman ini di sebut “rajam”.

Tapi jika diketahui seorang pelaku wanita dalam keadaan hamil melakukan zina Muhson, maka hukuman ditunda sampai melahirkan dan sampai masa nifas (waktu yang diberikan untuk seorang ibu sampai kondisi rahim dan kekuatannya pulih kembali) selesai.

Pemberlakuan hukuman rajam juga menimbang sampai anak yang dilahirkan ada yang mengurus jika ibunya dirajam. Jika hanya ibunya yang tidak punya sanak saudara maka ada hukum lain yang dihadapinya selain rajam. Islam melarang membunuh jiwa yang tidak melakukan pelanggaran hukum Islam. Anak yang dikandung pelaku zina Muhson tidak boleh menanggung kesalahan ibunya.

Status anak yang lahir akibat perzinahan itu bernasabkan pada ibunya. Artinya anak itu kelak memakai bin dari nama ibunya. Seorang ayah biologis dari anak tidak bisa menjadi wali nikah walaupun sang ayah telah menikah dengan ibu si anak.

Jadi hal ini harus diketahui umat Islam karena erat hubungannya dengan nasab dan waris. Begitu juga ayah sambung dengan status si ibu dalam keadaan hamil sangat dilarang memakai bin kepada ayah sambung karena dapat merusak nasab perwalian dan waris.

Bagi yang belum menikah tetapi melakukan zina maka hukumnya berbeda baik laki-laki maupun perempuan. Hukumnya dicambuk 100 kali, diusir dari tempat dia bermukim. Dan disuruh bertobat kepada Allah atas perbuatannya.

Jika wanita itu bersebadan dengan laki-laki yang sudah menikah maka si laki-laki itu yang dirajam. Perbuatan wanita yang belum menikah itu di sebut “ghairu Muhson“.

Ustadz Drs.Tukimin, MA

Kajian tentang Membunuh

Orang yang membunuh orang lain yang muslim maka hukumannya dibunuh, nyawa ganti nyawa sengaja ataupun tidak sengaja kecuali dengan niat ataupun tidak, kecuali adanya pengampunan dari pihak keluarga korban.

Jadi ada keringanan dalam hal ini jika pihak keluarga korban mengampuni perbuatan tersangka. Begitu juga bagian tubuh seorang muslim yang “hilang” akibat tindakan muslim lainnya, diganti dengan bagian tubuh yang sama. Tindakan pemaafan dari pihak keluarga korban dibayar dengan jizyah (denda) sesuai dengan kesepakatan antara pelaku dengan keluarga korban.

Tentang Murtad

Orang yang murtad (keluar dari kepercayaan agama Islam) itu otomatis menjadi kafir. Bagi seorang murtad yang telah dinasehati untuk kembali bertaubat dengan berbagai tahapan tidak juga bersedia masuk Islam maka layak dibunuh.

Kafir yang memusuhi umat Islam dan selalu mencari dan menimbulkan permusuhan, wajib di bunuh. Misalnya seperti kasus Salman Rusdi di era 90-an yang menulis “Ayat-Ayat Setan”. Sedangkan kafir yang lain yang tidak memusuhi Islam bahkan dalam perlindungan Islam, maka berlaku hukum membayar pajak demi perlindungan itu.

Karena dalam Islam tidak ada paksaan dalam beragama dan Islam tidak pernah bermusuhan dengan keyakinan agama di luar Islam. Jadi, siapa saja yang bermukim dalam negara Islam harus dijaga dan dipelihara diri dan jiwa mereka bahkan keyakinan mereka terhadap agamanya tidak boleh diusik sepanjang diri pribadinya tidak mengganggu atau memusuhi hukum Islam yang telah diterapkan.

“Hukum Islam dalam hal tindak pidana sangat keras, hal ini bertujuan untuk mencegah dan melindungi jiwa manusia dalam hubungan antar manusia. Ada ancaman bagi siapa saja yang membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah. Tujuan hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian” pungkasnya.

Syukurlah bahwa negara Indonesia dalam bingkai NKRI telah mengakomodir hukum pidana sedemikian rupa sehingga hukum rajam, cambuk dan sebagainya yang menerapkan hukum Islam tidak berlaku di Indonesia kecuali wilayah yang menerapkan hukum istimewa seperti provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Tausiyah ini dihadiri para jamaah anggota persyarikatan Muhammadiyah dan masyarakat sekitarnya. Pengajian ini rutin dilaksanakan setiap Jum’at malam ba’da Maghrib. (r/Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LATEST NEWS