24 Mei 2022

Derajat Orang-Orang Yang Berilmu

174 Pengunjung

Selasa, 10 Jumadil Awal 1443
14 Desember 2021

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَـكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَـكُمْ ۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah 58: 11)

Sesungguhnya para sahabat berlomba-lomba mencari tempat dekat Rasulullah agar mudah mendengar perkataan beliau yang beliau sampaikan kepada mereka.

Perintah memberikan tempat kepada orang yang baru datang, adalah merupakan anjuran, sekiranya hal ini mungkin dilakukan, untuk menimbulkan rasa persahabatan antara sesama yang hadir.

Tiap-tiap orang yang memberikan kelapangan kepada hamba Allah dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memberi kelapangan pula kepadanya di dunia dan di akhirat nanti.

Sebagaimana kita ketahui sejak dulu hingga saat ini, ilmu pengetahuan menjadi perbincangan dan perlombaan umat manusia, ilmu pengetahuan menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa.

Dalam Islam, tidak sedikit al-Quran membahas dan menjelaskan tentang kedudukan orang-orang yang beriman dan kedudukan orang-orang berilmu. Peranan ilmu dalam Islam sangat penting sekali.

Firman Allah SWT :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Artinya :
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad: 17)

Tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku mukmin, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannnya. Seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam baik itu menyangkut aqidah, adab, ibadah, akhlak, muamalah, dan sebagainya.

Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman ilmu yang benar, maka diharapkan pengamalannya akan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Bahkan hampir tak ada suatu bangsa didunia ini dinilai maju kecuali di sana ada ketinggian ilmu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya :
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Dari apa yang kita pahami diatas, begitu pentingnya kita mengingat kembali, saat kita dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan polos, telanjang, buta ilmu pengetahuan, walaupun kita dibekali dengan kekuatan dan pancaindera yang dapat menyiapkannya untuk mengetahui dan belajar.

Allah SWT berfirman:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصٰرَ وَالْاَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya :
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl 16: 78)

Allah SWT mengkaruniakan pendengaran, penglihatan dan akal. Semua karunia ini sebagai instrumen yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk digunakannya memperoleh pengetahuan.

Sesungguhnya tidak sedikit dari manusia, lebih memilih harta benda dibandingkan ketinggian ilmu. Harta benda itu sendiri dapat habis dengan sekejap jika ia tak memiliki ilmu, bahkan dapat menjadi malapetaka bagi pemiliknya. Namun tetap memeliharanya sebagai titipan Allah SWT bilamana memiliki ilmu dan mensyukurinya.

Allah SWT berfirman:

قُلِ انْظُرُوْا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ وَمَا تُغْنِى الْاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Artinya :
“Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di Bumi! Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus 10: 101)

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam Islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadist-hadist nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Didalam Al Qur’an, kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan banyak sekali, ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari Al-Qur’an sangat kental dengan nuansa yang berkaitan dengan ilmu.

Sesungguhnya ilmu menjadi kekhasan Islam sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Mahadi Ghulsyani, “Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.

Pada surat Al-Mujadilah 11 dengan jelas menunjukkan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan memperoleh kedudukan yang tinggi.

Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ilmu, dan ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa takut kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya.

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآ بِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَ لْوَانُهٗ كَذٰلِكَ ۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Artinya :
“…..Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.”(QS. Fatir 35: 28)

Dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu menjadi sangat penting, dan Islam telah sejak awal menekankan pentingnya membaca.

Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
كَلَّاۤ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰۤى

Artinya :
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”. (QS Al-Ala’q 96:1-5)

Dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia-Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang menjadikan Nabi-Nya pandai mambaca.

Allah SWT mengangkat kedudukan orang beriman yang berilmu dibandingkan orang yang hanya sekadar beriman.

Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang menyebabkan kita semakin dekat dapat mengenal Allah SWT, yang dapat kita amalkan, yang membuat kita rendah hati serta terhindar dari sifat takabur.

Semoga kita dapat menjadi hamba yang taat yang haus akan ilmu yang bermanfaat yang akan berguna di dunia dan di akhirat. (TI Abdullah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *