11 Agustus 2022

Jendela Fajar

245 Pengunjung

12 Jumadil Akhir 1443/16 Desember 2021

Firman Allah SWT :

 وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ }

Artinya :

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS Al Anbiya : 34-35).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Artinya :

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS An Nisa’ 4:78).

Sesungguhnya sering-seringlah mengingat mati dengan melihat orang yang sedang sakit, melihat jenazah terbujur kaku,  melihat jenazah masuk keliang lahat, atau membayangkan beratnya siksa kubur. 

Niscaya semua itu akan menghilangkan kesombongan diri, membangunkan jiwa kita dari kerasnya hati terhadap kebenaran, menyadarkan  kita akan kelalaian, membangkitkan semangat untuk merobah diri dan bersegera kepada ampunan Allah SWT, Yang Maha Pengampun.

Hadist Nabi SAW :

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Artinya :

Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (HR Ibnu Majah, no. 4.259).

Sesungguhnya maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan hanya Allah Subhanawa Ta’ala Yang Maha Tahu, tetapi maut pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup, agar saat kembali dalam keadaan yang baik. Saat kedatangan  kematian, saat itulah kiamatnya, maka tidak ada lagi waktu untuk beramal.

Sesungguhnya umur yang telah berlalu tidak akan kembali. Dia akan pergi selamanya dengan segala kenangannya, baik kenangan yang penuh penyesalan, keindahan dan kebahagiaan. Hidup harus dapat memanfaatkan umur sebaik mungkin. Hanya orang-orang yang mampu memanfaatkan umurnya dijalan Allah yang mendapatkan kemuliaan didunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِ

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ    ۙ  وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya :

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati su3paya menetapi kesabaran”. (QS Al-Ashr 103 :1-3).

Sejenak bersama kita renungi lebih jauh surat Al-Ashr ini, sebagaimana dengan ayat-ayat dalam Al-Qur’an lainnya, maka tidak cukup di maknai secara mendasar melainkan sangat luas dan padat dengan berbagai makna dan renungan yang mendalam.

Dalam surat Al-Ashr dijelaskan gambaran nyata bagaimana manusia yang Allah berikan umur terlena dengan umur mudanya, berleha-leha dimasa tuanya, hingga umurpun berlalu sia-sia, padahal kematian itu sangat dekat. Kecuali mereka hamba-hamba Allah yang beramal saleh yang menjadikan umurnya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar selalu mengingat sesuatu yang akan memutuskan berbagai kenikmatan yaitu kematian.

Hadits Nabi SAW :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”

Artinya:

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu Hibban).

Kematian adalah akhir dari kehidupan di dunia ini tetapi bukan akhir dari segalanya. Karena setelah kematian, ada alam kubur, hari kebangkitan dan alam akherat.

Banyak cara yang bisa kita kerjakan untuk menghilangkan sifat sombong dalam diri,mengingat kematian, diantaranya melihat orang yang sedang menghadapi sakratul maut atau dengan berziarah kubur.

Rasulullah SAW bersabda:

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

Artinya :

“(Dahulu) aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya kesibukan terhadap urusan dunia bisa menyebabkan hati seseorang menjadi kering dan keras yang pada akhirnya menjadikan sombong serta malas untuk beribadah serta mudah berbuat maksiat.

Berhati-hatilah akan silaunya gemerlap dunia, ingat usia ingat akan kematian yang kedatangannya tidak pernah diduga, apakah disaat sakit atau disaat sehat, saat muda atau pada saat tua, saat ditertidur atau saat dalam perjalanan, saat meradang atau saat bersenang-senang. Ingat mati melenyapkan kesombongan. (TI Abdullah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *