11 Agustus 2022

Al Ustadz Drs. Mahyuddin Siregar, MA: Fardhu Kifayah dan ‘Ain dalam Perspektif Islam

203 Pengunjung

Medan-Rentaknews.com. Al Ustadz Drs. Mahyuddin Siregar,MA menyampaikan tausiyah tentang Fardhu Kifayah dan ‘Ain dalam Perspektif Islam, di Masjid Baiturrahman Jalan Marelan 6 Pasar 2 Timur lingkungan 24 Kelurahan Rengas Pulau Medan Marelan Kota Medan, Ahad (2/1/2022).

Dia mengisi tausiyah tetap setiap awal Ahad pertama dan Ahad ketiga setiap bulannya. “Masih banyak dikalangan muslim yang terkadang tidak memahami tentang ini”, ujarnya.

Dia menyebut, berbicara tentang hukum Islam maka kita akan dihadapkan dengan 2 pilihan antara wajib dan Sunnah. Wajib juga sering di sebut dengan kata fardhu. Fardhu dalam perspektif Islam ada 2 yaitu Fardhu A’in dan Fardhu Kifayah.

“Secara umum konsep wajib/fardhu itu diartikan sebagai kewajiban yang ditunaikan, jika tidak dikerjakan maka berdosalah pelakunya dan sebaliknya jika dikerjakan pelaku akan mendapat pahala. Sedangkan konsep Sunnah menitikberatkan jika dikerjakan pelakunya mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan maka pelakunya tidak pula berdosa,” jelasnya.

Al Ustadz ini mengemukakan, Fardhu ‘Ain adalah ibadah dan amal yang dikerjakan sendiri dan tidak boleh diwakilkan. Seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Memberikan nafkah bagi keluarga, menyekolahkan anak, dan menuntut ilmu.

Disebutkan, dalam hadits AT Turmudzi dan Abu Dawud Rasulullah Sallallahu’alaihi Wassalam bersabda,” Bertakwalah kepada Tuhanmu (Allah), tegakkan sholat 5 waktumu dan berpuasalah di bulan mu (Ramadhan), tunaikan zakat harta-hartamu, taatilah para pemimpinmu niscaya kamu akan masuk surga Tuhanmu”. (Hadits Riwayat Turmudzi dan Abu Dawud).

Pada hukum fardhu ‘ain, katanya, kewajiban melekat pada tiap masing-masing orang dan tidak akan gugur apabila salah satu orang yang mengerjakannya. Artinya keterwakilan melalui orang lain sudah pasti tidak dapat menggugurkan dosa karena kelalaian pribadi kepada orang yang diwajibkan.

Dia menambahkan, sedangkan hukum fardhu kifayah adalah kewajiban masyarakat as ecara keseluruhan, apabila ada keterwakilan dari sekelompok orang itu ada yang mengerjakan, maka otomatis gugurlah kewajiban itu dikarenakan adanya yang mengerjakannya.

“Contoh fardhu kifayah pengurusan jenazah yang meliputi, memandikan, melaksanakan sholat jenazahnya, dan menguburkannya,” pungkasnya.

Ustadz Drs. Mahyuddin Siregar, MA adalah seorang alim ulama yang banyak membahas dan memberikan tausiyah agama khususnya tentang ilmu fiqih. Dia juga banyak mengisi kajian di Masjid-masjid di Medan Utara. Penjelasannya dalam mengurai persoalan hukum mudah difahami. (r/Rudi H.)

editor:hps

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *