21 Mei 2022

Mengaji Ba’da Subuh

148 Pengunjung

Pandangan Hukum Tentang Cerai, Talak, Iddah dan Rujuk

Medan-Rentaknews.com Ba’da Subuh di Masjid Baitur-Rahman, seperti biasanya, diisi ceramah singkat. Kalinini disampaikan Al-Ustadz Antony Tanjung, SHI, SPdI.

Mesjid ini berlokasi di Jalan Marelan VI Pasar 2 Timur Lingkungan 24 Rengas Pulau Medan Marelan.

Al-Ustadz Antony Tanjung, SHI, SPdI berlatar guru pesantren ini, mengkhususkan diri pada pembahasan fiqih . Dia banyak mengkaji dan mengisi pengajian di Masjid-masjid di seputaran Marelan.

Dalam kajian ba’da Subuh kali ini, membahas seputar hukum pernikahan khususnya yang menyangkut cerai, talak, Iddah dan rujuk.

“Banyak sekali dijumpai dalam rumah tangga persoalan cerai, talak, Iddah dan rujuk di kalangan masyarakat Muslim yang terkadang kita semua tidak memahami dengan baik kedudukan hukum dan persoalan yang menyangkut tentang ini. Sehingga terjadi hal-hal yang melanggar syariat Islam,”ujar Antony membuka ceramah.

Dia menyebut, makna cerai itu adalah berpisahnya pasangan suami istri dalam suatu ikatan rumah tangga. Cerai itu bisa disebabkan oleh kematian yang mengakibatkan salah satunya sendiri (janda/duda).

“Sedangkan yang disebabkan perpisahan misalnya ditinggal pergi tanpa kabar berita atau tidak bertanggung jawab dalam hal nafkah lahir bathin maka si perempuan bisa mengajukan cerai sesuai syariat Islam,” lanjut Antony.

Bicara talak, katanya, adalah hal yang menyebabkan putusnya hubungan suami istri hingga sipengucap (suami) kehilangan haknya karena ucapan ini. Talak Raj’i adalah talak 1 dan 2 yang memungkinkan si suami untuk menikah lagi setelah habis masa Iddah. Sedangkan masa Iddah seorang istri yang telah di talak suami (1 atau 2) berlaku selama 4 bulan 10 hari atau sekitar 140 hari. Hukumnya sama seperti perempuan yang bercerai karena meninggal.

Ia menerangkan, iddah adalah masa menunggu bagi perempuan yang telah bercerai atau ditalak suami. Iddah bermanfaat bagi perempuan karena waktu menunggu yang diberikan dapat dimanfaatkan sebelum rujuk kembali atau menikah dengan pria lain.

Ustadz mengutaikan, perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya pada masa hamil masa Iddah nya setelah selesai melahirkan. Tidak peduli berapa lama dia baru melahirkan, sesuai dengan Surat Ath Thalaq : 4.

“Sedangkan perempuan yang tidak dalam keadaan hamil saat cerai mati hukumnya juga sama masa Iddah nya yaitu 4 bulan 10 hari. Perempuan yang di cerai suami (cerai hidup) dan sudah jimak tetapi sedang haid atau sudah haid hukum iddahnya adalah 3x suci. Sesuai Surat Al-Baqarah : 228,” lanjutnya.

Disebutkan, perempuan yang diceraikan suami tidak dalam keadaan hamil, tidak haid atau menopause masa iddahnya adalah 3 bulan sesuai dengan surat Ath-Thalaq : 4.

Antony menjelaskan, perempuan yang diceraikan suaminya dalam keadaan belum jimak maka tidak memerlukan masa Iddah. Sesuai dengan Surat Al Ahzab : 49,yang berbunyi : …..“Tidak wajib bagi mereka Iddah…… Masa Iddah bagi perempuan yang sudah ditalak 3 selama 30 hari atau satu kali haid.”

“Masa Iddah bagi seorang istri yang menggugat cerai suami yaitu sama seperti Iddah talak 3, hitungan masa Iddah dimulai ketika surat cerai baru keluar,” katanya.

Dia melanjutkan, perempuan yang telah ditalak suami masih mendapatkan hak temoat tinggal yang layak, nafkah lahir dan dijaga kehormatan untuk menghindari fitnah selama bersifat talak raj’i.

“Larangan masa Iddah bagi yang suaminya meninggal adalah tidak boleh meninggalkan rumah kecuali ada urusan yang mendesak, tidak boleh berpakaian mencolok apalagi memakai wewangian,” jelasnya.

Haram hukumnya meminang wanita yang masih di talak Iddah

Ustadz Antony mengutarakan, hukum menceraikan/menalak istri dalam keadaan haid haram dan dia termasuk talak bid’ii maksudnya tidak menampakkan sesuai Sunnah. Adab talak harus mengikut sunnah. Cuma masalahnya saat bertengkar suami istri tidak memperdulikan tentang masalah ini. Talaknya haram tapi Sah.

“Menceraikan istri dalam keadaan haid, nifas, hamil tetap dipandang sah, tapi hukum dalam saat talak itu yang berbeda,” sebutnya.

Dia menjelaskan, talak dalam keadaan mabuk itu sah. Mabuk dalam keadaan tidak mengetahui dia di mabuk (tanpa sengaja karena perbuatan orang lain).

“Marah dalam berakal itu gugurlah (batal) talaknya. Pengucapan talak tanpa diketahui objek yang ditalak maka hukumnya gugur seketika. Talak itu ada yang namanya jinayah atau sindiran yang memerlukan niat,} kata Ustadz ini..

“Aku pulangkan engkau ke rumah orang tuamu,” kata Antony, Itu memerlukan niat. Maka hukumnya jika memang cerai maka itu dikatakan talak. Kalau di luar itu disebut talak main-main misalnya tidak dilafalkan hanya didalam hati.

Dia jelaskan, perkara merujuk harus pakai saksi. Kalau merujuk tidak perlu ijin. Tetapi harus ikrar, misalnya “aku merujuk engkau (istriku)” makanya Sunnah pakai saksi. Merujuk memerlukan waktu bahagia dalam keadaan suasana hati gembira.

“Talak I sebaiknya tidak boleh serumah menghindari adanya jimak suami istri yang sudah ditalak Karena hukumnya Haram kepada istri yang sudah dijima,” ujar ustadz lebih lanjut.

Dalam situasi tertentu, pertengkaran rumah tangga sering terjadi yang berujung pada pengucapan kata “cerai”. Hal ini membawa implikasi terjadi talak.

Talak melalui media komunikasi yaitu medsos dapat dibagi dalam beberapa kelompok. Perkara talak atau cerai itu tidak boleh main-main. Talak tertulis baik di medsos atau media lain jika disertai niat maka jatuhlah/gugurlah talaknya.

Barangsiapa yang punya istri lebih dari satu, dia tidak berlaku adil pada keduanya maka dia datang kepada Allah pada hari kiamat, maka bahunya jatuh sebelah/dalam keadaan tidak seimbang/miring badannya.

Muhallil yang direkayasa sah tetapi hukumnya haram karena tidak sesuai dalam akad nikah. Sah tapi haram. Yang jadi masalah karena saat menikah muhallil tidak mencampuri (Jima’) istrinya dengan alasan tertentu.

Pihak perempuan yang sudah menikah paska talak 3, suami penerus atau Muhallil tidak boleh main – main sebelum sang suami pengganti tidak ridho dan ikhlas.

Jadi posisi istri yang dinikahi karena talak seorang suami, maka sang mantan istri yang menikah lagi dengan orang lain (muhallil) maka suaminya harus “merasakan” madu sang istri.

“Jika muhallil jadi alasan untuk si istri ingin dirujuk mantan suami, dengan segala perjanjian dan di luar hukum nikah maka haramlah hukumnya. Perkataan “nanti” mengandung akan dilakukan di masa depan. Dalam lafalz cerai dengan menyertai kata “nanti” artinya hal itu berlaku Sah saat seorang istri melakukan “pembangkangan perintah suami,” ujar ustadz menutup ceramahnya. (r/Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *