21 Mei 2022

Mengenang 111 Tahun Amir Hamzah, Sastrawan dan Pahlawan Nasional dari Langkat

103 Pengunjung

Langkat-Rentaknews.com. Kalau dari Sumatera Barat ada sosok kharismatik, Buya Hamka Ulama dan Sastrawan Indonesia, juga Pahlawan Nasional yang terkenal dengan karyanya – karyanya, “Tafsir Al-Azhar, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Merantau ke Deli” yang terbit tahun 1939.

Bagi masyarakat melayu buya Hamka adalah ahlul bait, walau berasal dari Minang, itulah kecintaan masyarakat melayu kepada buya Hamka.

Sedangkan dari Sumatera Utara ada T. Amir Hamzah, sastrawan dan pahlawan nasional dari tanah Deli tepatnya dari Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Amir Hamzah adalah seorang tokoh pahlawan nasional sekaligus sebagai sastrawan pujangga baru, lahir pada tanggal 28 Februari 1911. (mengenang 111 tahun Amir Hamzah).

Bernama lengkap Tengku Amir Hamzah, lahir dari kalangan keluarga istana Kesultanan Langkat. Ayahnya adalah Pangeran Langkat Hulu, bernama Tengku Muhammad Adil, ibunya bernama Tengku Mahlija.

Amir Hamzah menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura tahun 1916, HIS Tanjung Pura tahun 1924, MULO di Medan dan Batavia, kemudian melanjutkan pendidikan di Surakarta pada sekolah AMS (Algemeene Middelbare School) jurusan sastra timur.

Di kota ini pulalah ia berkenalan dengan Ilik Sundari, gadis jawa yang dicintainya, dan menjadi sumber inspirasi bait-bait syairnya.
Namun cinta pertamanya kandas, Amir dipanggil pulang untuk menikahi putri sultan , Tengku Putri Kamilah untuk mengambil tanggung jawab kesultanan.

Usai tamat AMS ia kembali ke Batavia melanjutkan pendidikan di sekolah Hakim Tinggi.

Tahun 1931, adalah tahun duka bagi Amir Hamzah dengan meninggal dunia ibunya, selang 2 tahun ayandanya pula meninggalkan dunia fana ini tahun 1933.

Meskipun begitu, Amir Hamzah tetap melanjutkan pendidikannya dengan dibantu oleh pamannya yang menjadi sultan Langkat bernama Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmat Syah.

Selama mengenyam pendidikan di Solo, Amir mulai mengasah minatnya pada sastra sekaligus obsesi kepenyairannya.

Pada waktu – waktu itulah Amir mulai menulis beberapa sajak yang kemudian terangkum dalam antologi (kumpulan dari karya-karya sastra/bunga rampai) Buah Rindu yang terbit tahun 1943.

Pada waktu tinggal di Solo, Amir Hamzah menjalin pertemanan dengan Armijn Pane dan Achdiat K Mihardja. Ketiganya sama-sama mengenyam pendidikan di AMS, bahkan mereka satu kelas.

Meninggal Dunia

Revolusi sosial yang meletus pada 3 Maret 1946 menjadi akhir bagi kehidupan Amir Hamzah dia menjadi salah satu korban penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Pesindo ( Pemuda Sosialis Indonesia).
Pesindo menangkapi sekitar 21 tokoh termasuk Amir Hamzah pada 7 Maret 1946, tanggal 20 Maret orang-orang yang ditangkap dihukum mati.

Amir Hamzah wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman masjid Azizi, kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK. Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975 tanggal 3 November 1975.

Hingga kematiannya, Amir Hamzah telah mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa, dan 1 prosa terjemahan.

Jumlah karya tersebut 160 tulisan, masih ditambah dengan Setanggi Timur yang merupakan puisi terjemahan serta terjemahan Bhagawat Gita.

Karya – karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, sedangkan karya-karya selanjutnya bermakna lebih religius.

Dari dua koleksinya, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju, untuk puisi-puisinya, Amir telah disebut sebagai “Raja Penyair Zaman Pujangga Baru” dan satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari Era pra -revolusi Nasional Indonesia.

Bagi masyarakat Melayu, sosok Amir Hamzah sudah tidak asing lagi, sebagai penyair besar. Di tangannyalah bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang terus dihargai hingga sekarang.
Amir Hamzah telah meninggalkan legazy bagaimana dengan kita?

Senin tanggal 14 Februari 2022 PW. Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Sumut telah melaksanakan bedah buku “Pesona Orang Ternama Sumatera Utara dalam 2 jilid di aula Fakultas Ekonomi Bisnis Indonesia (FEBI) UINSU dihadiri tokoh-tokoh melayu Sumatera Utara, serta Wakil Gubsu Musa Rajeck shah.
Bedah buku diprakarsai Yanhar Jamaluddin selaku rektor UISU berkolaborasi dengan Dekan FEBI UINSU.

Dalam paparannya Yanhar dan tim berjanji dalam penerbitan jilid 3 akan memasukkan, tokoh Nasional Amir Hamzah. (Penulis : Abdul Aziz, ST, Pengurus Wilayah ISMI Sumut.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *